


Oleh: Achmad Fendy Arifin
Sebagai kelanjutan laporan media untuk website Lembaga Border Crossing Space Burneh yang akan disebarluaskan, “Tanah Merah Biru (Workshop Performatif)”, secara di poster tertanggal 20 April-18 Juli 2026. Suatu kesempatan bagi kami, sebagai penerima Pemanfaatan Program Layanan Produksi Media untuk Kategori Penciptaan Karya Kreatif Inovatif dalam Lingkup Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Kementerian Kebudayaan 2025, Dana Indonesiana (yang kini menjadi Dana Indonesia Raya), sejatinya sudah berlangsung sejak tanggal 10 Februari 2026, di mana pada saat melakukan rapat persiapan, berikut juga pada saat melakukan pembayaran tunai, lunas dibayar, atas jasa pembuatan website, juga berlangsung di bulan Februari 2026. Hal ini saya mau merujuk dari sejumlah oretan di atas.
Ini sangat disadari sebagai dokumentasi, dari sebuah karya yang dilakukan dengan metode penciptaan, riset artistik—dengan menempatkan practice as research, yang diperkenalkan Robin Nelson. Di mana selama ini Hafifi cenderung menggunakannya untuk menemukan sudut pandangnya sendiri atas riset artistik ini. Oretan semacam itu bagi saya sudah tidak asing, yang sering dilakukan, dan saya langsung minta sekalipun dirinya tidak bercerita sebagai jelajah pengetahuan dalam menjawab rumusan masalah dari karya ini, ketika ditempatkannya sebagai riset artistik, yang sudah dijelaskan pada tulisan saya sebelumnya.
Dari oretan Hafifi, saya masih sangat mempercayai pertanyaan eksistensial terhadap kebutuhan website itu sendiri—yang kemudian diposisikan sebagai identitas dan wajah institusi di era digital, selain beberapa platform internasional ketika dirinya mengajukan lamaran residensi ke Jerman, Austria, Jepang, & lainnya, sering kali dihadapkan dengan mencantumkan website lembaga terkait. Hal lainnya sehubungan dengan cara dirinya mengarsipkan dan mengkurasi karya; di samping beberapa komunitas yang berbasis teater cenderung mengabaikan—dianggap: “tidak merasa perlu,” “lebih fokus pada produk karya,” “tidak dijadikan ruang untuk pemikiran artistik,” dan ”menunjukkan tarik-menarik antara kebutuhan administratif/institusional dan metode kerja seniman yang memprioritaskan praktik.”
Saya kira lembaga ini sekalipun berasal dari gorong-gorong, ada suatu kesadaran tentang ekosistem platform yang harus dibangun atas legitimasi, arsip, dan identitas kegorong-gorongan ini; bukan pada tujuan atau substansi, tetapi pada metode/aturan main yang disadari sebagai riset artistik. Termasuk di antaranya refleksi atas kesalahan mengajukan anggaran soal website—yang hanya meletakkan pada desainnya, yang hanya 2,5 juta, sementara domain website 2,5 juta, ditambah lagi jasa bulanan untuk memasukkan data—yang tidak dianggarkan. Salah satu strateginya mencari personal yang sifatnya kolektif atau sukarela; ibarat mencari jarum jam di tengah lautan. Otomatis kerja lainnya bernegoisasi dengan Faiz Fajar, sebutlah nama yang terlibat dalam kerja ini, bukan hal mudah—selain menggunakan dana pribadi di luar anggaran pengajuan, sekalipun ditempuh dengan dibayar di akhir pekerjaan selesai atau tuntas; daripada berlarut-larut menyalahkan sumber daya, merupakan potret kebuntuan dalam berpengetahuan, mengetahui cara bernegosiasi, tetapi tidak mengetahui dari mana modal berasal, dengan segala macam perasaan frustrasi namun realistis—mengakui bahwa “begitulah keadaannya” sambil tetap mencari celah.
Saya kira catatan yang paling reflektif, ketika diterima pengajuan proposal pada Dana Indonesiana (Dana Indonesia Raya), yang bergantung pada pendanaan negara; yang diperlukan keberadaan website ini sebagai alat untuk kemandirian. Situs web di sini bukan hanya profil, tetapi visi untuk masa depan lembaga sehingga dapat bertahan tanpa ketergantungan pada satu pintu, dengan mencari jalur alternatif, dengan merujuk pada sebuah pengalaman lembaga budaya di Jepang yang pernah berkunjung di Makassar, hanya dikelola dua orang aktif; “hidup” dengan beberapa founding di luar negara ataupun CSR. Dengan web ini ke depannya, diharapkan dapat “mengubah pendekatan” → “kolaborasi & negosiasi” → biaya produksi diperluan dengan membuka saluran lain melalui situs web dan CSR, sebagai jalan membangun diri ke depannya—sekalipun hanya dua orang sekalipun yang terlihat aktif dalam lembaga ini.





Dari web ini juga didalamnya akan memasukkan beragam kerja-kerja workshop performatif; yang bertumpu pada hubungan objek, tubuh, dan ruang, serta psikologis menyeret pertanyaan sederhana—kenapa tidak dilakukan secara spontan di depan publik Mamberamo Raya? Bukan kepada persoalan yang terencana/terstruktur dengan menyiapkan terlebih dahulu sekumpulan materinya, ini berkaitan dengan psikologi, dan risiko, ketika seketika muncul kecemasan pribadi. Bukan bermaksud membela Hafifi, yang tumbuh berkembang dari trauma-trauma kekerasan, bullying, tekanan, dan beragam “kegagalan” dalam sepanjang hidupnya, lingkaran kecemasan, ketakutan, dan kekhawatiran atas biodata tubuh; mengalami hidup bersama, keadaan batinnya belum terlalu siap—ketika berulang kali dilakukan di ruang publik seperti di pasar, dermaga, pelabuhan ke pelabuhan, maupun di atas kapal laut, dicobanya untuk spontan memperlakukan objek, sayangnya selalu membatalkannya.
Dari website ini, kita akan tahu kerja-kerja objek sehari-hari seperti kasur, bantal, wajan, paci, pel lantai, ember, jas hujan, detergen, kompor gas, dispencer, dan lainnya dengan tubuh Hafifi, sebagai materi untuk memprovokasi pembacaan baru. Di sisi lain, diperlukan ruang studio atas hubungan ini untuk menghindari salah tafsir sebagai gangguan—bukan kepada penyampai pesan seperti pada umumnya sebuah karya. Ruang yang serupa dengan kulturnya, semacam menciptakan relevansi tubuh, sekaligus studio (dalam hal ini rumah kos di Kasonaweja) untuk memproses tubuh dan emosi. Ruang digunakan agar proses kreatif tidak menghasilkan emosi yang samar atau “aneh” atas menjawab semua rumusan masalah yang diajukan sejak awal.
Jadi tentu saja praktik workshop performatif ini diposisikan setara dengan riset; dengan bertanya pada diri sendiri tentang apa masalah seni saat ini dan kebutuhan apa yang muncul. Dan hasil akhirnya bukanlah mencari produk karya sebagai satu-satunya jawaban. Karya tersebut hanyalah hasil dari proses peninjauan, refleksi, dan practice as research, melalui eksperimen → eksplorasi diri → distribusi melalui video dengan menghasilkan citra dari ruang (studio) Hafifi; memulihkan psikologi; perasaan sebagai minoritas harus diklarifikasi dalam hal tindakan; ruang dengan kultur yang sama, menciptakan ruang untuk tubuh dan emosi → menggunakan benda-benda sehari-hari secara spontan dalam ruang sebelum ke publik → merefleksikannya sebagai riset → mendistribusikannya melalui video.
Workshop performatif dalam hal ini, bukan untuk menciptakan karya yang indah, tetapi sebuah proses perluasan paradigma berbeda dalam melihat sistem kota, persepsi diri, dan menghidupkan suara lokal; semua ide yang direkam ini di antara objek sehari-hari dan tubuh, dengan menaburkan detergen di atas wajan → menyeterika di udara → mengangkat kasur di udara → memainkan kain lap → lemari plastik dipeluk, dan lainnya → sebagai tindakan untuk mengekspresikan perasaan, yang bukan sedari awal memunculkan makna. Sacara tidak langsung, dari tindakannya Hafifi, menjelaskan biodata tubuhnya, sejumlah perasaan emosional dirinya untuk “mengorganisir tindakan” sehingga menjadi "sosiologis”—sehingga spontanitas nantinya sudah terorganisir untuk memiliki logika sosial.
Mengalami hidup bersama di Mamberamo Raya, saya kira merupakan cara mencari jembatan antara tindakan pribadi dan makna sosial—dalam melihat medan pasca-seni. Dampaknya memiliki tiga lapisan: psikologis, advokatif, dan psikoanalisis, untuk mengatur tindakan agar bermakna secara sosial, menarasikan ulang tentang tubuh secara psikologis, dan dapat digunakan untuk memahami bidang lain, bisa ditunjuk semacam ini; masalah kelembagaan → kebutuhan situs web → metode ruang kultur serupa + eksperimen objek sehari-hari → makna psikologis & sosial → dalam menatap sistem kota.
Lantas sehubungan dengan perbedaan tubuh memperlakukan objek yang dianggarkan 5 juta dan 3 juta; yang menentukannya semua properti dalam anggaran 3 juta merupakan objek yang relatif baru digunakan oleh Hafifi; yang lebih difokuskan pada pembentukan video eksperimen ketimbang properti yang dianggarkan 5 juta; relatif akrab Hafifi menggunakannya dalam beberapa karyanya, yang lebih difokuskan pada video dokumenter—dalam “gangguan” paradigma. Perbedaan lainnya, properti yang dianggarkan 3 juta lebih kepada proses untuk “mendeteksi” dan “menyorot pengetahuan” semacam charity yang untuk dieksplorasi. Namun hal yang sama dalam seluruh properti dan tubuhnya Hafifi; eksplorasi bersama tubuh + makna “ditemukan pada saat tindakan” berlangsung, di mana rekaman video menangkap proses eksperimen tubuh di ruang, untuk kita melek bersama tentang sistem kota.





Terakhir dalam indikator website ini, yang sifatnya punblik, tambahan peserta workshop performatif sekitar 68 orang terjadi dengan sendirinya—mengingat hubungan antartnis atau klan di Mamberamo Raya begitu kuat dapat dibingkai untuk pertama sebagai atas keterlibatannya sebagai metode. Hafifi memulai dari dua orang yang akan menghubungkannya kepada empat orang lainnya yang sama-sama mengutarakan pentingnya dana bantuan → sebagai lanskap suara → menghubungkannya pada dua puluh orang lainnya → lima orang; yang sama-sama memperbincangkan kepeduliannya terhadap hutan. Pada dasarnya keterhubungan ini dikarenakan mereka berasal dari etnis yang serupa atau klan yang sama, sehingga masing-masing pikiran saling terkait satu sama lainnya.
Kata kunci dana bantuan dan hutan bukan berarti sebauh percakapan yang memutuskan mata rantai dengan lainnya, justru membawa pada pertemuan Hafifi, kepada → dua orang dan delapan orang yang memperbincangkan tentang kebuntuan dalam mengaktualisasi diri → kata kunci berbeda ini membawa pada pemahaman tiga orang lainnya → bagaimana membentuk itu semua jikalau sistem kotanya belum berjalan sebagaimana mestinya. Kata kunci tentang sistem kota yang ditemukan → membawa pada enam orang yang terhubung dengan tiga orang lainnya dalam memperbincangkan Raskin → menghubungkannya pada empat orang lainnya dalam konteks bantuan + Raskin → menghubungkannya pada dua puluh orang lainnya dalam persoalan yang sama. Artinya kata kunci dana bantuan + Raskin sangat menonjol di antara percakapan yang dilakukan secara tidak terduga. Kata kunci yang berpotensi untuk berpikir kritis tentang hutan; aktualisasi diri; dan sistem kota justru lahir dari Gen Z (akhir), yang masih di duduk di bangku SMA, yang menjadi perubahan sasaran dari workshop performatif ini.
Basis klan atau etnis yang sama masih menguat di Mamberamo Raya di balik narasi inklusivitas, yang perlu dijelajajahi ulang oleh Gen Z ini; membuat workshop performatif dalam presentasi akhirnya, sebagai akhiran dari timeline yang direncanakan; koneksivitas antara pertunjukan + pameran dalam konteks workshop performatif, dengan mempertanyakan ulang tentang hubungan akses berdaya, tubuh, ruang, aktualisasi diri, dan sistem kota sebagai peta jalan Gen Z (akhir) ke depan. Dari masalah emosional → dikumpulkan berdasarkan kelompok/masalah → diproses melalui lokakarya, presentasi, dan validasi tertulis → hasilnya adalah pameran/pertunjukan (workshop performatif) dalam menatap sistem kota. Pada dasarnya percakapan ini, akan menjadi sound digital yang dintervensi secara performatif, dengan harapan Gen Z (akhir) ketika memperbincangkan hutan, aktualisasi diri, dan sistem kota hendak menunjuk pada epistemologi lokal dan kosmologi lokal yang dihidupkan.
Ini yang sangat membedakan dalam kerja workshop pada umumnya, kehadiran mereka dengan jumlah yang besar—bukanlah jumlah yang langsung berkelompok, melainkan jumlah yang kecil atas keterhubungan satu sama lainnya. Jumlah yang dibayangkan dalam berhari-hari pada praktiknya menjadi berbeda atas temuan yang terjadi di lapangan, berdasarkan performativitasnya masing-masing—yang dibentuk oleh jaringan antaretnis. Tepatnya antarmasayarakat adat, atas keterhubungan ini dapat menggerakkan proses workshop performatif sebagai karya.
Saya ingin menegaskan apa pun hasilnya dari workshop performatif sebagai karya dengan membentuk jaringan makna melalui video dokumenter, kumpulan esai dan percakapan, eksplorasi tubuh residen, eksplorasi tubuh dari Gen Z, penelusuran ruang, keterhubungan antarpersonal atau antaretnis—jika dalam prosesnya mengalam kebuntuan dan kebekuan, sejatinya sebagai jawaban dari rumusan masalah diajukan di awal, untuk berpartisipasi bersama-sama dalam jaringan. Ini berarti bahwa proses “gangguan” atau “interupsi” dalam konteks dekolonisasi dan dekolonialitas, tidak seutuhnya dimiliki, tetapi dengan hadirnya lima belas orang yang berpartisipasi menuliskan dan memperbincangkannya, saya menganggap biodata tubuh Hafifi sudah terbentuk. Apa pun metode menyerap pengetahuan Mamberamo Raya dengan tiga fase, atau pulang pergi yang kemungkinan akan tiga kali (sejauh ini sudah dua kali), dengan memasukkannya ke dalam website; dalam kehendak untuk, mempengaruhi Isu → menghubungkan → presentasi → validasi dari pertanyaan riset karya.
Kami merasa sebagai lembaga Border Crossing Space Burneh, yang berasal dari gorong-gorong, sudah menganggap tentang pengalaman hidup bersama di Mamberamo Raya; sudah berusaha untuk kreatif; sudah berusaha mencari rute-rute alternatif dalam berpikir kritis. Kami juga cukup memahami, bahwa jika ada ruang, karenanya kami mesti mencoba terlebih dahulu. Kam sudah membuat biodata tubuh kami melalui Hafifi, sekali lagi, dimensi sosiogenik dari masalah ini, tidak punya pilihan lain selain membangun pilihan-pilihan yang menjadi dasar masa depan generasi kita ke depannya, di antara mengambil keputusan untuk memercayai Gen Z (akhir), dalam memberikan pandangan alternatif dalam melihat segala macam problematika; menguraikan hal yang paradoks tentang “Tanah Merah Biru”; atau membuat rute-rute keluar ke depannya melalui sejumlah catatan mereka, melalui epistemologi lokal maupun kosmologi lokal yang dimilikinya.
