Background mobile

Catatan

Cerita dan Catatan dari Border Crossing Space Burneh.

Interupsi untuk “Melawan” dalam “Mogok”

Amanda Ismail (Elly, kiri) dan Andrie Lazuardi (Gani, kanan) pada salah satu bagian dalam pertunjukan “Mogok!” yang didekonstruksi oleh KP2SB (Foto: Hoirul Hafifi)
Amanda Ismail (Elly, kiri) dan Andrie Lazuardi (Gani, kanan) pada salah satu bagian dalam pertunjukan “Mogok!” yang didekonstruksi oleh KP2SB (Foto: Hoirul Hafifi)

Tulisan ini dibuat sebagai ajakan untuk pertunjukan “Mogok”—sebuah dekonstruksi oleh KP2SB, dilakukan secara kolektif dari naskah “Waiting for Lefty” karya Clifford Odets—saya patut mengapresiasi keberanian yang ditunjukkan oleh kelompok teater ini (yang dipimpin oleh Syamhari dan berbasis di Kampung Sumur, Jakarta Timur), yang disutradarai Amanda Ismail, akrab disapa Manda. Pertunjukan ini yang dijadwalkan pada Sabtu, 22 Agustus 2026 pukul 19.30 di Gedung PPSB, Jakarta Timur, ini menandai debut penyutradaraan Manda setelah kurang lebih lima tahun menekuni dunia panggung teater. Hal ini juga sangat patut dipuji karena keberanian Manda yang dibutuhkan beragam upaya yang tidak mudah untuk memerankan karakter Edna—yang diubah menjadi sosok “Elly” melalui proses dekonstruksi. Memerankan istri seorang buruh anggota serikat—peran yang dibentuk oleh paradigma ideologis tertentu dan tekanan penderitaan yang tiada henti—tentu bukanlah tugas yang mudah pula. Mengingat ini adalah kali pertama ia mengambil peran utama, upayanya sungguh mengesankan, terutama jika menilik riset mendalam berbasis “web-ke-biografi (sebagai pengetahuan dirinya)” yang dilakukan.

Berdasarkan wawancara saya dengannya, Manda mengumpulkan data ekstensif mengenai kehidupan masyarakat miskin dan mengasah karakter Elly melalui pengamatan tajam serta kolaborasi dengan timnya yang solid. Terlebih lagi, terdapat rasa saling percaya yang nyata; ia menaruh kepercayaan kepada para aktor—yang juga sebagian besarnya melakukan debut keaktoran, yang kemudian merespons secara organik tanpa terbebani oleh batasan-batasan yang berlebihan. Di luar aspek akting itu sendiri, kerja kolektif ini memiliki makna yang lebih dalam: ketika naskah ini pertama kali diajukan kepada KP2SB oleh sutradara sebelumnya, sebelum akhirnya diberikan kepada Manda, sebagai pembacaan yang cermat mengungkap semangat yang sangat relevan dengan kehidupan kita—penantian akan sosok pemimpin buruh bernama Lefty (yang melambangkan harapan akan perubahan dan kehidupan lebih baik, bebas dari penderitaan dan kemiskinan), serta bagaimana kematian sosok yang lama dinanti itu justru memantik semangat baru untuk bertindak di tengah pergolakan sosial.

Pergolakan sosial ini dapat dipahami melalui lensa kecemasan sosial, merupakan sebuah konsep yang dikembangkan oleh Karl Jasper (1883-1969), psikiatri dan filsuf Jerman, yang berpendapat bahwa tindakan kolektif sering kali dipicu oleh peristiwa tak terduga yang membangkitkan kemarahan dan rasa muak yang begitu hebat, sehingga orang-orang terdorong untuk bertindak secara spontan—didasarkan oleh Manda atas pengamatan dari sejumlah kumpulan data fakir miskin yang diperoleh dari web. Pada dasarnya, hal ini memunculkan serangkaian pertanyaan bersama: Mengapa rezim tampak semakin rumit dan berbelit-belit bak labirin? Mengapa tindakannya menjadi begitu sewenang-wenang? Mengapa militer bertindak seolah-olah berada di atas hukum? Mengapa nasib kelas pekerja tampak semakin tidak berharga—seolah-olah mereka hanyalah sekadar mainan? Dan mengapa begitu banyak pemimpin atau aktivis—begitu mereka mengukuhkan posisi di dalam rezim—berubah menjadi penjilat yang tak tahu malu? Justru pertanyaan-pertanyaan itulah yang sangat menggugah KP2SB saat naskah tersebut pertama kali disuguhkan kepada mereka.

Alasan utamanya—berlandaskan pada pemahaman mereka mengenai dekonstruksi, khususnya Manda sebagaimana diuraikan oleh Jacques Derrida—untuk merancang strategi yang mampu menyingkap makna-makna baru di dalam teks aslinya, dimulai dari rasa empatinya mendalam atas sejumlah data fakir miskin yang dikumpulkan dan dilihatnya sebagai perenungan dalam menekuni dunia teater kini, yang mungkin ke depannya. Manda dalam hal ini memahami naskah, sedang berupaya mengubah dampak emosional dari “guncangan moral” ini menjadi tindakan nyata: sebuah aksi mogok kerja. Strategi Odets ini mengingatkan dirinya pada konsep “publik afektif” dari Zizi Papacharissi (Profesor Komunikasi dan Ilmu Politik di University of Illinois Chicago (UIC), di mana mobilisasi terjadi bukan semata-mata melalui argumen rasional, melainkan melalui penyebaran yang menular—layaknya virus—dari “ekspresi sentimen dan penuturan narasi.”

Hal lainnya, kenapa karya ini layak untuk disaksikan, dirinya sebagai perempuan, menempatkan karya ini pada perspektif perempuan yang sering kali menjadi sub ordinat. Dengan demikian, pertanyaan mereka sebelumnya hendak menemukan jawabannya dalam upaya menghidupkan tokoh-tokoh ini guna memicu “aksi mogok”—sebuah tindakan yang didorong oleh tuntutan mendesak serta tekanan yang dihadapi para perempuan tersebut, baik mereka sebagai istri buruh maupun sebagai buruh perempuan itu sendiri. Akibatnya, kami mengalihkan perspektif karya ini untuk berfokus pada perempuan melalui medium teater propaganda, sembari merumuskan visi dari karya ini; seruan/ajakan para perempuan terhadap publik/penonton untuk memprovokasi suatu perlawanan atau kesadaran kritis negara yang “tidak baik-baik saja”, karena perempuan yang merasakan penderitaan pertama melalui pintu domestik seperti dapur dan Kasur, atau Manda menyebutnya “politik kamar tidur”.

Sementara misinya diungkapkan oleh Manda, kalau mau dipahami sebagai upaya atau tindakan-tindakan yang mesti dilakukan atas terwujudnya visi di atas; mereka akan membocorkan atau merepresentasikan ranah privat (domestik) atas sejumlah provokasi yang terus bertubi-tubi, secara makro, atas banyaknya tindakan kesewenang-wenangan, dalam hal ini pun pimpinan serikat, juga belum tentu sepenuhnya tahu tentang penderitaan kaum gorong-gorong, sulitnya hidup, dan beragam kegagalan, hingga tunggakan sewa kontrakan, juga hal yang rentan disebabkan oleh negara—yang menjadi catatan utama dalam sejumlah pengamatan web dari sejumlah video yang dilihatnya; ruang domestik ini dipresentasikan kepada publik yang selama ini dianggap remeh, justru ditempatkan pada awal kesadaran kritis dan basis perlawanan, sekaligus provokasi individu dalam domestik menunjukkan cara memprovokasi solidaritas publik agar tidak apatis terhadap kondisi bangsa yang semakin “rumit”, dengan menggunakan perspektif penderitaan perempuan.

Manda dengan tegas menyatakan premis dari dekonstruksi ini; provokasi Elly, Rosita, Nining terhadap para kaum laki-laki untuk melakukan pergerakan, yang lama kelamaan provokasi ini terus menjadi, semakin banal dan kasar, sehingga berujung keberanian laki-laki mereka dengan caranya masing-masing. Sehingga kalau diajukan pertanyaan perspektif penciptaan dalam karya ini; tentu sudah mudah dilacak, feminisme kritis transformatif; dapat dilihat bagaimana cara mereka mengubah atau menstransformasi ruang domestik menjadi titik balik hubungan dengan negara, melalui ruang domestik atas penderitaannya atau persoalan tuntutan untuk memutuskan mempercepat agenda pernikahan, sebagai keyakinan bahwa dengan menikah, melakukan suatu gerakan atas “kesewenang-wenangan”, yang artinya ruang ini ditransformasi sebagai lab sosial sebagai titik kesadaran kritis; keintiman domestik yang bocor ini berfungsi sebagai pemicu ketidaknyamanan publik untuk meruntuhkan sikap apatis; secara interseksional—menghubungkan antara penindasan makro (negara) dan kegagalan struktur di bawahnya (bahkan sampai ke tingkat pimpinan serikat), dengan cara keyakinan, Manda bilang mesti “mogok!”.

Lantas apa yang dinyatakan Manda sebagai pernyataan/sikap; ketika negara dipahami “tidak baik-baik saja”, maka perlu melakukan perlawanan pergerakan atas “kesewenang-wenangan” yang berlangsung. Dengan mengajukan alasan lainnya, untuk mendekatkan karya ini dengan budaya dan realitas kita saat ini—khususnya terkait marginalisasi perempuan yang terus berlangsung; Manda sering kali melihat bahwa perempuan sering menghadapi berbagai bentuk stigma dan kerap dicap “murahan” atau bahkan lebih buruk lagi. Namun, di balik semua itu, para perempuan ini bergulat sama batin mereka sendiri; di ranah domestik, merekalah pihak pertama yang menanggung beban terberat saat kebutuhan pokok menipis—ketika beras, minyak goreng, tabung gas, sabun, dan popok bayi tidak ada di rumah kontrakan, atau saat biaya sekolah anak tertunggak dan uang kontrakan menjadi beban yang sangat memberatkan. Realitas inilah yang menjadi inti dari pendekatan dekonstruksi mereka—jika seseorang memilih untuk memandangnya dari sudut pandang tersebut; tentu yang perlu diapresiasi bagaimana dirinya secara sadar mencatat dari sejumlah pengetahuan yang diserap, sebagai seseorang yang ingin tumbuh dan berkembang, sekalipun digeluti dalam ketidakpastian, saya kira karya ini perlu disaksikan bersama untuk menguatkan nalar kritis kita bersama.

Manda hanya ingin bersumbangsih untuk menyoroti evolusi hierarkis di rezim ini—seperti hubungan negara sama tenaga kerja dan kelas buruh, serta persoalan seputar Omnibus Law dan lainnya yang belum tuntas; KP2SB melihat bagaimana aparatur negara kerap memperlakukan perempuan semata-mata sebagai objek daya tarik seksual, menempatkan mereka pada posisi subordinat yang dirugikan. Mereka pun juga merefleksikan posisi ini sendiri sebagai publik yang terpinggirkan atau masyarakat gorong-gorong—sebuah masyarakat yang kesejahteraannya rentan, dan yang peluangnya untuk tumbuh menjadi individu yang sehat jauh dari kepastian. Oleh karena itu, mereka menelaah kembali, menggaungkan kembali semangat teater propaganda yang terkandung di dalamnya—yang hendak dilacak dan ditelusuri sebagai pengetahuan; berakar pada gagasan Harold Lasswell (1902-1978), ilmuwan politik dan ahli teori komunikasi Amerika, yang mendefinisikan propaganda sebagai teknik untuk mengendalikan sikap dan tindakan kelompok melalui manipulasi simbol, cerita, atau rumor—yang dalam hal ini kami megnggunakan teater sebagai medianya. Hal ini melibatkan teknik-teknik untuk memengaruhi perilaku kita dan mengendalikan pikiran dengan memanipulasi representasi (melalui tokoh-tokohnya)—sebuah Upaya membentuk opini dan sikap publik melalui bentuk-bentuk komunikasi yang signifikan guna memastikan terlaksananya tindakan yang diinginkan.

Manda bilang bahwa tujuan dari propaganda ini, bahwa kita (khususnya masyarakat teater di Jakarta Timur (Jaktim) terkadang perlu “dididik” melalui propaganda agar kita mengambil pilihan yang “tepat”; memang, “publik yang gak terdidik merupakan bahaya bagi diri kita sendiri maupun bagi tatanan sosial. Kami juga merujuk pada pemikirannya SC. Woolley dan Philip N. Howard; tujuan mereka selaras dengan Lasswell—memengaruhi politik dan opini publik—namun dengan fokus pada media sosial sebagai arena utamanya: Facebook, X (Twitter), TikTok, YouTube, dan WhatsApp—yang tentu kami akan aktif melalui ini dalam mempromosikan karya, sehubungan Generasi dirinya, sebagian besar yang terlibat merupakan Gen Z yang aktif dengan ini—maka dilampirkan video-video provokasi soal buruh dari sejumlah YouTube yang disambung-sambung berkolaborasi video editor, yaitu Gelar Soemantri, termasuk juga bekerjasama dengan Mother Bank dan Bunga Siagian, dengan memasukkan video presentasi ke dalam karyanya; membuat publik merasa bingung, aneh, sentiment, sinis, dan tidak percaya kepada siapa pun, atau mempertanyakan ulang atas berlangsungnya rezim ini; mari kita bersama-sama menjadi penyaksi untuk memasuki dunia pengetahuan dari KP2SB, yang dikerjakan secara kolektif satu sama lain; melalui rokok bersama, jajan bersama, dan mendukung bersama lewat dukungan dramaturg yang dikerjakan oleh Andrie Lazuari, maupun dikomandoi panggungnya oleh Maher Wibawe, dan seluruh tim produksi yang terlibat di dalamnya, maupun beberapa narasumber yang saling memberikan pengetahuan penyutradaraan, dramaturgi, musik, tata cahaya, dan lainnya; mari ramaikan dan rebut pengetahuan ini seluas-luasnya.