Background mobile

Catatan

Cerita dan Catatan dari Border Crossing Space Burneh.

Kita ke Depan Tumbuh atau Tetap Ada dalam Hantu-hantu Kolonoial?

Achmad Fendy Arifin

Sejumlah gambar yang sebagian besar diambil dari potongan tulisan narasumber dari “Tanah Merah Biru (Workshop Performatif)” yang berlangsung kurang lebih tiga bulan, sejak tanggal 20 April 2026, direncanakan berakhir pada 18 Juli 2026, yang kemungkinan besar akan berakhir di bulan Agustus 2026, dengan waktu yang belum ditentukan akan menjadi bahan pameran untuk direspons oleh tubuh atau argumentasi dari Gen Z (akhir) di Mamberamo Raya—tepatnya dari sejumlah siswa/i SMAN 1 Mamberamo Tengah. Karya ini dilangsungkan oleh Border Crossing Space Burneh, atas terpilihnya kami sebagai penerima Pemanfaatan Program Layanan Produksi Media untuk Kategori Penciptaan Karya Kreatif Inovatif dalam Lingkup Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Kementerian Kebudayaan 2025, Dana Indonesiana (yang kini menjadi Dana Indonesia Raya), dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Di antara para penulis yang terlibat untuk berbagi pemikiran kritisnya, sebagian besarnya dari Mamberamo Raya, di antara Distrik Mamberamo Tengah, Mamberamo Hilir, dan Mamberamo Hulu, sebutlah 15 orang yang terlibat dari 18 penulis yang terlibat dalam memperbincangkan beragam aspek, dimulai dari pendidikan, pemberdayaan sumber daya manusia, pemberdayaan perempuan, kesehatan, pendayagunaan ruang publik, masyarakat adat, kebudayaan provinsi Papua secara global, kolonial, hingga epistemologi lokal dan kosmologi lokal—yang diikat dalam pemikiran dekolonisasi dan dekolonialitas Walter Mignolo, seorang filsuf dari Argentina.

Kita semua tahu bagaimana pengaruh Mignolo terhadap dunia intelektual dalam mengungkap hegemoni pemikiran Barat melalui gerakan dekolonisasi. Dari sejumlah tulisannya mengubah perspektif sejarawan global dengan menekankan bahwa kolonisasi bukan hanya tentang wilayah, tetapi juga dominasi cara berpikir dengan menyebutkan tidak ada modernitas jikalau tidak ada kolonialitas, ibarat dua sisi mata uang di antara modernitas Barat dan kehancuran kolonial—yang disarankan terhadap kita untuk “melepaskan diri” dari pandangan dunia Eurosentris dan pengetahuan standar. Lantas sejumlah tulisan dari masyarakat Mamberamo Raya yang hanya bisa dibilang bukan siapa pun, justru diajak bersama untuk berbagi pengetahuan dari “yang bukan siapa-siapa” itu—yang kadangkala di era ini masih ditemukan orang-orang yang kecenderungan mencari dominan—tanpa melihat keistimewaan yang disebut pinggir tersebut.

Sebut saja; Amon Bilasi, Barmabas Khu, Jorgen Praudot, Karim Kokoi, Kornelius Nuida, Margaretha, Matius Kujero, Obet, Odis Massie, Naomi L. Foisar, Paula Warami, Ramses Kogoya, Selina Boleba, Terianus Wonda, dan Yonas Kujiro, di luar penulis esai dari lembaga kami; Arda Fatimah Fania Ena, Hoirul Hafifi, dan Moh. Anis, yang kemudian pada perkembangan revisi atas percakapan yang terus berlangsung maupun sejumlah penelusuran—yang bisa dibilang buntu atau beku, mengandung semangat pluriversalitas. Sebagaimana mereka hendak mempromosikan “Tanah Merah Biru” terdapat pengetahuan, budaya, dan kosmologi yang beragam diakui setara, bukan hanya bertolak pada yang disebut satu standar—di antara sekian banyak orang yang ditemukan secara demikian; diam-diam kolonialitas yang samar semakin menguasainya. Dari sinilah, saya pribadi coba mengusulkan pada Hafifi selaku residen yang hidup mengalami bersama mereka; bagaimana sekiranya sejumlah tulisan ini pun dipamerkan atau dipajang dalam kelanjutan workshop performatif; apa yang bakal direspons oleh tubuh mereka, khususnya Gen Z (akhir) yang menjadi sasaran—perubahan sasaran spesifik terhadap mereka, untuk lebih menghargai tradisi epistemik lokal mereka yang dibentuk dari sungai Mamberamo Raya, hutan, speedboat, tumbuhan, binatang, sagu, babi, ritual, mantra, upacara, dan lain sebagainya dalam menatap ini semua sebagai studi pascakolonial dan studi budaya.

Apa yang terjadi di tubuh dan pikiran lokal mereka dalam menanggapi ini; sebagai jalan alternatif terhadap modernitas; yaitu, terhadap narasi tunggal modernitas oleh subjek yang tidak universal. Akahnkah sejumlah akal pikiran ini juga turut menggeser geografi akal dan menambatkan lokus berpikirnya atau mengartikulasikan berupa argumen; dalam politik dekolonial pengetahuan yang dekat dengan “pinggiran tersembunyi” atau “pinggiran istimewa”? Atau kita semua tidak bisa melepaskan diri dari pemahaman kita tentang apa artinya menjadi “manusia” yang dibayang-bayangi oleh modernitas dan beradab?

Sejumlah potongan-potongan tulisan yang sudah dilayout (Sumber: Website Border Crossing Space Burneh)
Sejumlah potongan-potongan tulisan yang sudah dilayout (Sumber: Website Border Crossing Space Burneh)

Saya membayangkannya dari sejumlah tulisan ini yang dipamerkan nantinya, sebagai salah bagian kelanjutan dari workshop performatif; dalam ruang seketika salah siswa/i keluar dari kelas dan muncul lagi membawa parang dan belati (Ilu), yang dilanjutkan dengan cerita dirinya atas hubungan tubuh dan Ilut sendiri. Mungkin dirinya bisa menegaskan sebagai wadah hubungan dari keberlanjutan geneasi—yang merobek standarisasi dalam dunia pendidikan. Pada konteks yang sifatnya “masyarakat adat”, Ilu terhubung dengan tubuh mereka, tubuh kasuari, dan tubuh budaya menjadi satu ekosistem makna. Mereka dengan sendirinya berada di dalam jaringan keterkaitan, yang barangkali direspons dengan tindakan-tindakan lainnya yang lebih autentik dalam diri mereka, yang tidak dimiliki oleh tubuh saya, sebagai orang Madura.

Pembayangan ini hendak menunjuk pada hubungannya yang bersifat melingkar: manusia melindungi hutan → hutan menopang kehidupan manusia → melalui Ilu yang diciptakan oleh masyarakat adat; hutan menjadi sistem kehidupan yang terlindungi dan berkelanjutan. Hal ini yang menghubungkan nantinya tubuh mereka ke depan dalam mempraktikkan kerja autoetnografi, dengan “menempatkan tubuhnya mereka sendiri sebagai pembaca di pusat ketidakseimbangan.” Sehingga sangat memunculkan pameran ini pun dapat memberikan eksperimen tubuh, ruang penderitaan yang serupa, dan rekaman afek melalui diri masing-masing, dengan menatap bersama-sama bahwa “Tanah Merah Biru”, yang sejalan dengan tubuh Hafifi —autoetnografi melalui tubuh dan perjalanan—sebagai perlawanan terhadap sistem kota yang dijelajahi dan ditelusurinya selama ini dari lintas kota dan lintas pulau.

Yang tampak jelas dari keseluruhan cerita Hafifi, kemudian dipadukan dengan sejumlah potongan tulisan ini; menunjuk pada “kekerasan terhadap epistemologi dan kosmologi kita.” Tanpa tidak sadar, bahwa kita semua bersama-sama sedang dihapuskan cara berpikir dan menafsirkan dunia melalui autentikal yang dimiliki masyarakat Mamberamo Raya atas hubungan antara manusia, kasuari, hutan, dan parang. Kami tidak memiliki itu, justru perbedaan semacam ini dalam kosmologi Papua, makna hidup terletak pada jalinan hubungan, sebagaimana makna akan hidup bersama dengan respons tindakan mereka.

Hal yang paling radikal lagi memungkinkan di antara mereka mengganggap Ilu, hutan, sungai, dan tumbuhan difungsikan sebagai guru yang sedang membuat kurikulumnya sendiri tentang etika, batasan, hormat menghormati orang lain, dan bertahan hidup di alam tanpa merusaknya. Dari pembayangan ini pun, terjadinya krisis relasional yang kemungkinan sudah berlangsung lama di Mamberamo Raya. Sebagaimana diungkapkan bahwa adat istiadat dipaksa masuk ke dalam logika komoditas oleh sistem kota/negara yang menuntut hasil cepat, sehingga hubungan tanggung jawab antar generasi terputus. Generasi muda tidak lagi memahami keunikan adat istiadat, ditambah lagi trauma sejarah kolonial, di mana “nama-nama Belanda” disebut bukan karena kekaguman tetapi karena rasa sakit atau luka berkepanjangan.

Sasaran ini pun diharapkan membuat cara pandang lain dalam menatap Mamberamo Raya yang disebut sebagai pusat etnoscape dan ideoscape yang telah lama menjadi tempat imigran datang dan pergi, yang secara bertahap memicu ketegangan; juga juga dapat memulihkan diri mereka dari sejak duduk di bangku sekolah untuk melakukan praktik penyelidikan relasional masyarakat adat: duduk bersama, mengajukan pertanyaan, mendengarkan sebelum menghakimi, dan mengaktifkan ruang tradisional melalui aktivitas tanpa pretensi. Bagaimana sekiranya tubuh dan sejumlah masalah Mamberamo Raya, dilihat dengan nilai-nilai intelektual melalui peningkatan fisik-mental dan disiplin diri, dengan modal biologis, erotis (jangan langsung kita memahaminya secara kotor sebagai ciptaan dari kolonial—yang autentik khas Mamberamo Raya), reproduktif, dan jasmani.

Saya kira jika ini berlangsung sebagaimana yang diharapkan, menjadi kekuatan yang alami dari mereka, bagaimana akhirnya nanti mereka dapat memperbincangkan tentang yang tidak dapat dijinakkan oleh patriarki melalui Raskin dan ASI. Mereka justru lebih akan sadar bagaimana memikirkan masa depan “rumah” itu sendiri dari dalam, dari tubuh, dari hubungan yang disebut saya krisis tersebut; untuk membuka jalan menuju “manusia, setelah manusia,” seperti yang dikemukakan Wynter dalam Mignolo. Harapannya ke depan Gen Z (akhir) ini dari hasil workshop performatif; memiliki agenda keberlanjutan yang muncul dari kebutuhan dekolonial masyarakat adat, meskipun terlihat independen satu sama lain, atau memang mestinya independen secara sifat, tetapi relasional, yang kesemuanya itu menurut Mignolo diperlukan pergeseran radikal dan diperlukan dalam geografi nalar, karena tanpanya (pergeseran yang merupakan pemutusan hubungan), kita akan tetap terkunci dalam pertempuran antara universal dan partikular, pusat dan pinggiran, modernitas dan modernitas alternatif, dll., dan kita terus “dininabobokan” dengan segala sistem yang sudah berlangsung.