Background mobile

Catatan

Cerita dan Catatan dari Border Crossing Space Burneh.

Memahami Sebuah Kafe dalam Berpikir Dramaturgis

Kafe tempat nongkrong bersama Afrizal Malna di Surabaya

Kafe tempat saya nongkrong bersama Afrizal Malna selama tahun 2020, di Surabaya (Sumber: Pergi Kuliner)

Apakah sebuah kafe memiliki kerja dramaturgi? Pertanyaan ini sebagian dari obrolan saya dengan Afrizal Malna (sastrawan, dramaturg, dan kurator), yang belakangan ini diketahui bersama melakukan praktik kerja melalui video dan desain grafis dengan platform digital melalui Youtube[1] ataupun Instagram[2]. Sepanjang tahun 2020 lalu, saya dan Afrizal sering kali bercakap di sebuah kafe yang terletak di area Universitas Airlangga kampus B, dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo, Surabaya. Tidak jauh dari tempat kosnya kala itu. Sekitar 500 meter, sebelum akhirnya pindah ke sebuah apartemen di Sidoarjo pada awal tahun 2021 (dan entah kemana lagi tahun-tahun berikutnya merujuk pada tulisannya yang selalu berpindah-pindah)[3]. Pertanyaan ini sebetulnya bukan untuk saya jawab, tetapi untuk diterangkannya kembali kepada saya; bahwa kafe memiliki kerja dramaturgi berdasarkan pemilihan tempat, hubungan masyarakat setempat, dan pilihan bentuk bangunannya, serta berkaitan dengan menu-menu yang ditawarkannya.

Praktik kerja seni pertunjukan beberapa tahun belakangan ini ketika mendengar istilah dramaturgi pada seni teater dan tari, khususnya (berkembang pada seni rupa, karawitan, dan musik) sering kali mengernyitkan dahi di beberapa kepala pelakunya. Termasuk saya pribadi. Seolah-olah sesuatu yang “pakem” dan tidak bisa dipertemukan dengan pengetahuan apa pun. Terkadang bersikeras dengan pengetahuan sebelumnya yang diketahuinya (tentang) istilah dramaturgi. Sering kali juga saya bertemu dengan pelaku seni yang beragumentasi tentang dramaturgi tanpa menunjuk beberapa referensi; baik itu sumber buku maupun penciptaan, tahunya begitu ya begitu dan tidak dapat diganggu gugat pengetahuan yang sudah bersarang dalam kepalanya.

Hal ini barangkali berkaitan dengan problematika akal sehat yang disebut Sal Murgiyanto (koreografer, penulis dan akademisi).[4] Selain problem distribusi dan sirkulasi pengetahuan, saya melihat banyak fenomena ketidakterbukaan antar pelaku seni itu sendiri karena hanya menggunakan egonya ketimbang akal sehat untuk berpikir dan melacak adanya pengetahuan sebagai informasi baru setiap yang dilihat sehingga bisa ditelaah kembali. Baik secara historis maupun penerapannya dalam pertunjukan. Para akademisi seni sekalipun yang menempuh mata kuliah dramaturgi sering kali gagap ketika dihadapkan dengan istilah tersebut. Karena itu pula, saya memaksakan diri untuk memeriksa dan melacaknya. Padahal di era digital, siapapun bisa mengakses dengan mudah pengertian dari dramaturgi. Saya pun terbilang lambat melakukannya. Baik itu melalui e-book, jurnal, makalah, skripsi, tesis, disertasi, blog dan vlog (video blog); akan ditemukan penelitian yang dilakukan Jihan Kusuma Wardhani (peneliti dan akademisi, Sidoarjo)[5], Yuliana Fitri dan Saaduddin (dramaturg dan akademisi, Padangpanjang)[6], Alvita dan Wiratri Anindhita (peneliti, Jakarta)[7], Tom Nicholas (peneliti di departemen drama University of Exeter, Inggris)[8], Katie Cleary (dramaturg, Irlandia)[9], dll.

Berdasarkan penjelasan Afrizal bahwa kafe memiliki kerja dramaturgi, dapat dipahami sebuah medan kerja manapun tentu memiliki kerja dramaturginya masing-masing atau bisa mungkin memiliki istilah tersendiri yang hampir serupa dengan kerja dramaturgi. Sebagian praktisi yang nyinyir bahwa apa pun bisa didekatkan dengan dramaturgi, menandakan seolah-olah dramaturgi hanya milik orang teater dan sepertinya dramaturgi sebagai “pakem.” Nyinyiran lain dari pelaku teater lainnya; “mengimutkan” kerja dramaturgi dari berbagai macam pekerjaan dan tempat dapat dilihat sebagai contoh ketidakterbukaan.

Hal demikian tidak juga berlebihan, karena merujuk pada istilah drama dalam hubungannya dengan interaksi sosial yang dipindahkan dalam teater. Seperti yang dikemukakan oleh Erving Goffman (1922-1982, sosiolog Kanada/Amerika Serikat).[10] Tetapi rujukan ini pun juga tidak menjadi satu kemutlakan atau yang disebut “pakem” tadi, ketika diteliti lebih jauh sejarah dari istilah tersebut, yang akhirnya saya kini dihadapkan oleh pernyataan Afrizal sehubungan dengan kafe; minum kopi, nyemil kentang, dan main android sembari mendapatkan input.

Percakapan dengan Afrizal semakin hari membawa saya untuk menggali memori referensi buku maupun pertunjukan yang pernah ditonton sebelumnya. Dramaturgi tidak lagi bekerja pada ruang statis, tetapi selalu bekerja secara dinamis. Bergerak tidak stabil. Saya pun mulai menggeser pemahaman tentang dramaturgi. Selama menempuh mata kuliah di kampus seni ruang kerjanya bergerak pada praktik analisis tekstual terhadap naskah drama sehubungan dengan tema, premis, konflik, penyebab konflik, penajaman konflik, akibat konflik, hingga terjadinya penyelesaian. Bahkan setiap mahasiswa seni yang berminat dramaturgi pada tugas akhirnya untuk memperoleh sarjana seni; praktiknya hanya sebatas menulis naskah drama. Bukan pada kerja-kerja dramaturgi yang saya lakukan belakangan ini. Lebih kompleks dalam keutuhan pertunjukan; terutama hubungan kerjanya antara dramaturgi dengan sutradara.

Ingatan pernyataan ini hampir serupa pada obrolan enam tahun sebelumnya, juga dengan Afrizal di sela-sela program Bengkel Riset Naskah Drama 2015: Album Keluarga yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta di Studio Hanafi, Depok, juga menjelaskan kerja dramaturgi yang lebih kompleks pada keseluruhan pertunjukan. Berhubungan antara teks dan penonton, teks dan produser, teks dan manajemen, maupun teks dengan aspek budaya, ekonomi, sosial dan politik. Tentu sangat berbeda dengan praktik kerja di kampus seni saya. Di mana kala itu, uraian saya seperti tidak dihiraukan oleh Afrizal, membuat saya bertanya-tanya untuk memeriksa dan melacak lebih jauh praktik kerja dramaturgi hingga dihadapkan pada beberapa literatur Barat, yang akan saya urai pada bagian berikutnya.

Dramaturgi dipahami sebagai praktik yang hanya bekerja pada naskah, juga dirujuk pada teman-teman komunitas teater kampus yang baru-baru ini meminta saya untuk mengisi kelas dramaturgi pada tanggal 8-15 Januari 2022. Tepatnya Teater Tiyang Alit[11] (Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya). Saya dihadapkan pada sekumpulan naskah drama berdurasi pendek sekitar 10-15 menit yang sudah dibuat oleh setiap anggotanya untuk dianalisis dan dibedah secara bersama-sama.

Realitas yang dihadapkan pada saya kini tentang hubungan dramaturgi dengan naskah drama, dan dramaturgi dengan pertunjukan membawa ingatan saya pada saat mengikuti workshop dramaturgi Nano Riantiarno[12] (Teater Koma, Jakarta) dibahas oleh Arthur S. Nalan (Profesor ISBI Bandung, kala itu masih menyandang gelar Doktor), yang didampingi Nano, diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Tepatnya tanggal 4-6 November 2013, di Lobi Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM). Pada saat itu, para peserta workshop yang hadir sebagian besar pemahaman tentang dramaturgi sangat berkaitan erat dengan konvensi yang “pakem” terus mengganggu dan memprovokasi pengetahuan saya. Terlebih lagi di kampus seni saya belajar tidak terlalu banyak berhadapan dengan paradigama yang baru tentang pengetahuan dramaturgi untuk mendapatkan input yang berbeda dari “pakem” tersebut, karena saya tidak terlalu meyakini demikian.

Hubungan antara dramaturgi dan teater seperti relasi yang “pakem” juga masih banyak ditemui di beberapa kota. Khususnya di kota-kota Jawa Timur. Seperti Banyuwangi, Tuban, Pamekasan, Bojonegoro, Gresik, Lamongan, Nganjuk, dan beberapa kota lainnya (sepuluh tahun terakhir ini saya lebih banyak di area tersebut ketimbang di kota-kota di luar Jawa Timur). Seolah-olah istilah tersebut identik dengan pertunjukan, yang tidak ada kaitannya dengan tempat atau pekerjaan apa pun. Kalau memang benar demikian; bagaimana dengan contoh yang dipaparkan Afrizal tentang praktik kerja sebuah kafe, dan siapa dramaturgnya?

Afrizal juga mengemukakan bahwa pandangan Goffman sebetulnya membuka peluang bahwa dramaturgi dapat dilihat dari berbagai macam perspektif studi; kebijakan publik, administrasi Negara, politik, psikologi sosial, media sosial, patologi anatomi, radiologi, andrologi, vaksinologi, sains ventriner, Desain Komunikasi Visual (DKV), media dan komunikasi, hingga dramaturgi digital.

Metaverse di era digital yang juga memiliki dramaturgi

Metaverse di era digital yang juga memiliki dramaturgi dalam praktik kerjanya (Sumber: Edukasi Kompas)

Dramaturgi digital juga bisa dihubungkan dengan kerja metaverse (wacananya muncul di akhir tahun 2021), yang diprediksi menjadi solusi ampuh untuk menjalani kehidupan selain di dunia fisik di tengah keterbatasan akibat pandemi Covid-19. Metaverse juga diyakini sebagai cara hidup manusia ke depannya di era digital yang akan dilakukan secara 3D dengan menggunakan avatar digital. Untuk melakukan aktivitas 3D di metaverse, seperti yang disebut Bill Gates (pengusaha microsoft) bahwa pengguna memerlukan headset dan kacamata virtual reality (VR), yang juga membutuhkan penyempurnaan. Tentu memiliki kerja dramaturgi yang dipikirkannya oleh Meta dengan Horizon Worlds-nya.

Dramaturgi yang dimaksud bahwa metaverse diciptakan dengan memadukan berbagai unsur teknologi seperti konferensi video, media sosial, hiburan, game, pendidikan, pekerjaan, dan mata uang kripto. Dramaturgi yang dimaksud ini juga berhubungan dengan penggunaan non-fungible token (NFT) dalam koleksinya (khusus Gucci); aset digital dapat berbentuk pakaian, karya seni, video, dan audio dengan menawarkan sensasi kemewahan digital yang hanya dapat dibeli di metaverse. Dan bisa ludes dalam hitungan jam. Bahkan Bill Gates juga dengan microsoft-nya tengah berusaha untuk menambahkan avatar 3D, dapat dipahami sebagai kerja dramaturgi dalam menyempurnakan ekspresi, tubuh, dan suara secara akurat di era digitalisasi.[13]

Peristiwa yang berkembang pada satu zaman, dapat dipahami memiliki kerja dramaturginya sendiri. Konspirasi, hoax, sosial, budaya, dan politik juga terus bergerak sesuai dengan zamannya. Bahkan di era metaverse ke depannya; kesemuanya hal itu bisa mungkin saling terselubung dalam praktiknya. Artinya semakin jelas bagi saya secara pribadi untuk mengatakan bahwa dramaturgi bukan satu istilah yang “pakem” dan tidak bisa berubah. Dramaturgi bukan satu ketetapan yang mutlak dan baku sehingga terus bisa diganggu dan dipertanyakan kembali. Merujuk pada pernyataan Afrizal; praktik kerja dramaturgi yang sudah terbentuk seperti kafe dan saya tarik pada zaman digital dengan contoh metaverse sebagai isu hangat dalam pembicaraannya di tahun-tahun yang akan datang.

Bentuk metaverse ini, saya tarik kembali pada visual yang sering dilihat sehari-hari tanpa avatar digital, tetapi melainkan penglihatan saya secara riil yang ada di sekitar. Yaitu supermarket, warung Tegal, warung sate, warung masakan Padang, warung nasi bebek, rumah kos, dan tempat pangkas rambut juga memiliki praktiknya sendiri. Memiliki kerja logis sehubungan dengan rancangan desain bangunan, pemilihan lokasi, pemilihan menu, target sasaran konsumen, pilihan bumbu juga disesuaikan dengan lingkungannya, sistem keterhubungan antara produsen dan konsumen maupun hal-hal lainnya; yang juga memiliki ketidakstabilan dipengaruhi banyak hal sehingga mengalami fluktuasi dan situasi yang terus bergulir dan bergerak.

Percakapan saya dengan Afrizal semakin menginput untuk membaca bahwa dramaturgi dalam seni pertunjukan yang terus bergerak berdasarkan cara pandang setiap pelakunya. Dapat digunakan oleh berbagai macam disiplin pengetahuan. Tidak ada yang “pakem.” Lantas kalau memang itu “pakem,” bagaimana dengan pertunjukan Bandung Performing Art Forum (BPAF), Membeli Ingatan,[14] yang meminjan kerja sebuah kafe sebagai praktik dramaturginya? Bagaimana dengan Rokateater (Yogyakarta/Sumenep), Passport, Passphoto,[15] yang dipahami meminjam kerja dramaturgi arsip dengan latar Nyoo Studio, studio foto legendaris dari Kecamatan Kalisat, Jember, Jawa Timur, dan satu praktik kerja lagi yang bisa dirujuk selain beberapa praktik kerja lainnya; Artery Performa (Jakarta/Bekasi), Underscore: Copy Paste Sae,[16] yang dipahami meminjam kerja penyalinan dari sebuah video; tepatnya dari tiga pertunjukan Teater Sae (Jakarta), Pertumbuhan di Atas Meja Makan,[17] Biografi Yanti Setelah 12 Menit,[18] dan Migrasi di Ruang Tamu,[19] dengan dipilih hanya beberapa durasi dari ketiganya.

Pemahaman ini barangkali juga mengalami kekeliruan, yang seyogyanya dilakukan analisis bersama karena semata-mata tulisan ini semacam narasi/deskripsi dari dramaturgi arsip, sekaligus solidaritas terhadap diri sendiri untuk mendapatkan pengetahuan yang ingin terus berkembang agar semakin luas pemahaman saya; dari yang tidak mengetahui apa pun pelan-pelan menjadi sedikit tahu, mulai tahu, dan mengetahuinya.

Taufik Darwis Membeli Ingatan, transaksional antara pelayan kafe dengan pembelinya

“Membeli Ingatan” Taufik Darwis, transaksional antara pelayan kafe dengan pembelinya pada 26-27 September 2017, di Galeri Cipta 2, TIM, Jakarta (Sumber: Youtube DKJ)

Tiga praktik kerja yang dihadapkan kepada saya, bukan semerta-merta mebekukan pemahaman tentang dramaturgi yang selama ini dipahami. Tetapi justru praktik kerja tersebut membawa kepada hal yang lebih terbuka bagi saya untuk dibongkar satu pemahaman pertunjukan yang terus bergerak. Praktik kerja dramaturgi Membeli Ingatan, layaknya saya dibawa ke sebuah kafe dengan berbagai macam menu yang dihidangkan, yang disebutnya sebagai Kafe Ingatan. Perbedaannya di sana; menu-menu itu berupa hidangan arsip[20] yang layak sekiranya dinikmati, ditonton, dan dirasakan secara bersama dengan berbagai macam transaksi di dalamnya. Rasa Merah Bolong (1997-2008, Teater Payung Hitam)[21], Makan Hakan (1999, Teater Re-Publik)[22], Bulan dan Kerupuk (1996, Teater Laskar Panggung), Universitas Orang-Orang Mati (2004-2005, Teater Cassanova) dan Tanah: Ode Kampung Kami (2011-2014, Komunitas Celah-Celah Langit)[23].

Kafe dalam ruang kenyataan; dihadapkan dengan pelayan kafe, kemudian juga ada band tamu yang mengisi di sela-sela menu arsip yang dihidangkan. Pertunjukan yang disuguhkan Taufik Darwis (yang biasa dipanggil Udung) mencairkan kebekuan dan kebuntuan tentang “pakem,” konvensi, dan sistem yang baku. Artinya praktik kerja dramaturgi bisa dilihat dan dipinjam dari contoh riil apa pun. Dapat dipahami bahwa dramaturgi begitu terbuka. Bahkan Afrizal menegaskan pula Tiktok sekalipun memiliki kerja dramaturginya sebagai cara pengoperasian visual dalam durasi yang sudah ditentukan.

Dramaturgi kafe yang dihadapkan pada transaksi antara konsumen memilih menu arsip dengan pelayan kafenya; penonton layaknya pengunjung kafe pada umumnya memilih menu yang diinginkan. Mereka bebas memilih sesuai dengan selera dan ingatan arsip menonton dari hasil penelitian Udung. Bagi mereka yang belum pernah menonton hasil penelitiannya, bisa menentukan dari selera atau rasa yang tertera di menu. Sebagaimana datang ke sebuah kafe yang tidak pernah diketahui setiap menu arsipnya. Paling tidak varian-varian yang ditawarkan pernah dirasakan sebelumnya. Lalu di tengah-tengah pertunjukan, pelayan kafe memanggil salah satu nama konsumen bahwa menunya sudah siap dihidangkan mengingatkan saya pada saat menunggu antrian makanan di sebuah kafe. Ada juga yang menunggu pesanan datang dengan perasaan tidak sabar. Saya kira hal ini yang diharapkan Udung dalam dramaturgi kafe arsip ini; ada pengunjung layaknya menunggu orderan yang tak kunjung datang dan terjadilah transaksi dengan pelayan kafe. Jelang lima atau sepuluh menit pelayan pun menghampiri pemesan.

Pertunjukan yang saya saksikan tentunya tidak lepas dari sistem kerja sebuah kafe. Hubungan antara konsumen dengan menu arsip, dan hubungan konsumen dengan sang pelayan. Kalau mereka menyukai dan pernah menonton pertunjukan yang pernah dimainkan Tony Broer; berhadapan dengan menunya yang diolah rasanya oleh Tony. Mereka dihadapkan dengan pembocoran praktik-praktik kerja bandul dengan batu karang. Di menu yang lain dihadapkan pada arsip pertunjukan yang dimainkan oleh Wail Irsyad, dan beberapa aktor lainnya. Kafe dipinjam oleh Udung untuk mengoperasikan gagasan-gagasan arsip penelitiannya, di mana saya yang menontonnya justru akan mempertanyakan jikalau dalam operasinya tidak sesuai layaknya sebuah kafe. Dari sini saya mendapatkan pemahaman awal bahwa dramaturgi yang dipakai untuk membatasi logika antara riil dengan pertunjukan.

Passport, Passphoto (Rokateater) oleh Shohifur Ridho’i

“Passport, Passphoto” (Rokateater) Shohifur Ridho’i, diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada 21 September 2018, di Graha Bakti Budaya, TIM, Jakarta (Foto: Yola)

Pertunjukan lainnya yang bisa saya rujuk ditemukan pada Pasport, Passphoto yang disutradarai Shohifur Ridho’i, membawa kesan kepada saya dalam pengoperasian gagasannya dilakukan layaknya saya berada di sebuah Nyo Studio. Saya yang menonton dihadapkan dengan arsip-arsip tumpukan foto studio tersebut beberapa tahun silam yang tersimpan secara baik. Layaknya di sebuah studio foto, berhadapan dengan petugas studio untuk mencatatkan data yang mau difoto. Lantas mereka masuk ke dalam studio foto, berhadapan dengan fotografer. Terjadi percakapan kecil pada umumnya, untuk apa mbak/mas fotonya; percakapan ini terus berkembang, kemudian mereka ditawarkan untuk memilih kostum yang sesuai dengan keinginannya. Lantas dihadapkan pada situasi fotografer yang menginstruksi posisi tubuh mereka; entah itu kurang rileks, dagunya kurang ke atas, maupun kepalanya kurang digeser ke kanan atau ke kiri. Setelah selesai difoto; kemudian mereka kembali bertemu dengan petugas; bahwa foto bisa diambil sekitar dua jam kemudian. Kalau mereka mau menunggu dipersilakan, kalau mau pulang terlebih dulu juga dipersilakan.

Praktik kerja ini keseluruhan operasinya memang dipinjam dari kerja sebuah praktik studio foto pada umumnya di masa kini. Ridho tentu tidak akan memasukkan segala macam peristiwa yang berada di luar logika kerjanya studio foto; mudahnya bahwa saya langsung dapat menerka satu praktik kerja pertunjukannya.

Saya diingatkan pada peristiwa ketika datang ke studio foto. Saya tidak lantas mempertanyakan lagi; di mana pertunjukannya? Katanya ada pertunjukan? Atau semacam pertanyaan lainnya, sesuai dengan cerita Ridho, ada sebagian penonton masih bertanya-tanya semacam itu. Mereka tidak menyadari bahwa sudah berada di dalam pertunjukan dengan kerja dramaturgi Nyo Studio. Saya melihat dari potongan-potongan video yang diberikan Ridho kepada saya, ataupun foto-foto pertunjukannya; coba memahami bahwa dramaturgi sebagai pegangan saya untuk bekerja dalam meletakkan semua elemen maupun unsur pertunjukan. Saya coba melihatnya bahwa kerja Nyo Studio sebagai kerja dramaturginya yang mengikuti dan menghubungkan satu kesatuan elemen dengan teks. Jadi pertunjukannya Ridho mengingatkan saya bahwa tidak mungkin bekerja di luar logika riil kerja Nyo Studio, atau praktik kerja di luar studio foto pada umumnya.

Studio foto yang dirancang dengan meja kasir, kamar ganti, latar foto, tempat untuk editor foto, dan supervisor studio yang mengontrol jalannya alur aktivitas di studio foto. Ingatan saya terlempar ke studio foto yang cukup besar di Bangkalan, di area Sanggan, di mana supervisor studionya sering wira-wiri memperhatikan setiap kerja para kru yang bertugas. Dan tindakan supervisor ini menciptakan radar ‘kekuasaan’ terhadap mereka yang bekerja dan saya secara otomatis ikut ‘terkuasai.’ Radar ‘kekuasan’ secara umum, pertunjukannya dapat dilihat sebagai kontrolling kita sebagai warga Negara. Saya mendapatkan input dari pertunjukan ini, dramaturgi Nyo Studio dipinjam untuk mempermudah kerja saya yang “mengawang” tanpa merujuk pada bentuk ruang dan peristiwanya yang sudah jadi sebelumnya, dialami, dan dilihatnya sehari-hari.

Underscore: Copy Paste Sae oleh Dendi Madiya meminjam praktik kerja dramaturgi penyalinan sebuah video

“Underscore: Copy Paste Sae” Dendi Madiya meminjam praktik kerja dramaturgi penyalinan sebuah video pada 8 Juli 2019 di Graha Bakti Budaya, TIM, Jakarta (Sumber: Youtube Artery Performa)

Pertunjukan lainnya dari sekian pertunjukan yang bisa dijadikan rujukan dalam memahami kerja dramaturgi yang bersifat terbuka dipinjam dari bentuk apa pun, yaitu Underscore: Copy Paste Sae. Terlepas bahwa copy paste dijadikan sebagai metode, saya memahami penyalinan dari sebuah video sebagai kerja dramaturgi kalau merujuk pada pernyataan Afrizal; yang melihat dramaturgi dari sebuah kafe. Menyalin visual dari video tentu bukan perkejaan yang mudah. Saya sendiri justru bertanya ketika kerja copy paste disebut praktik kerja yang tidak kreatif. Hal ini menunjuk pada komunitas teater di masa kini, tepatnya dalam diskusi di ruang Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) kampus, Seni Nanggala Universitas Trunojoyo Madura.[24] Barangkali hanya dilihat dari idenya saja karena sifatnya hanya menyalin. Padahal kerja menyalin visual dari video pertunjukan yang memengaruhi perkembangan teater di masa kini, justru merupakan praktik kerja yang terukur dan memiliki indeks yang jelas.

Praktik kerja penyalinan video, kalau saya pahami pertunjukannya; di kepala saya justru membayangkan langkah-langkah apa yang dilakukan dalam kerja tersebut, apa yang dilakukan sutradara terhadap performer-nya, dan bagaimana cara mengukur skala visual dalam videonya. Saya meyakini bahwa kerja copy paste sangatlah kreatif karena dari video yang direkam pada tahun 1990-an, di mana gambarnya terdapat bintik-bintik, juga merupakan suatu tantangan tersendiri. Hal yang paling menarik tempat pertunjukan Artery Performa berbeda dengan ketiga video tersebut. Apakah kerja penyalinan bisa batal karena tempatnya yang berbeda, atau visual dalam video benar-benar menjadi pertimbangan untuk menyamakan secara persis sesuai video. Tentu pertanyaan-pertanyaan mendasar ini bagian kreativitas dari copy paste yang berhubungan erat dengan metode penyutradaraan.

Saya memahami kreativitas tidak lagi bekerja pada imajinasi dan ide saja, tetapi kerja-kerja kreatif juga bergerak pada tatanan penghitungan, pengukuran, dan pembayangan dari video, serta strategi apa yang mesti dilakukannya. Kerja menyalin; saya sebagai penonton membayangkan pada Dendi harus memikirkan pilihan ketiga video tersebut dan disambung menjadi satu pertunjukan, memikirkan tata cahaya yang tampak dalam video, memikirkan setiap gerak tubuh performer-nya, memikirkan dialog-dialog yang dimainkan oleh performer, tata letak semua properti yang digunakan setiap performer, posisi tubuh dengan setiap properti yang dipakai, dan berbagai macam pengukuran kerja menyalin sebuah video ke dalam pertunjukan. Tidak semudah mengcopy paste file dari website/PDF ke microsoft word. Saya kira apa yang dilakukan Dendi sangat kreatif dan cerdas dalam menentukan pilihan kerja. Karena apa yang dirujuknya adalah produk yang sudah jadi dan memengaruhi banyak pertunjukan di masa kini. Dari praktik kerja Dendi, saya dapat memahami kerja dramaturgi sangat berhubungan erat dengan kerja perancangan, pemikiran, keterhubungan, kausalitas, komposisi, dan pilihan kerja.

Pilihan kerja di dalam pertunjukan tidak terlepas dengan berbagai macam latar belakang para pelakunya; ada yang memilih menggunakan arsip-arsip (foto, video, buku, catatan harian atau diary, sketsa, rekaman suara, bon utang, dan lain sebagainya), benda-benda atau objek-objek, multimedia, foklor, seni rupa, hologram, arsitektur, mimesis (peniruan terhadap satu tokoh/peran)[25], pengumpulan dokumen-dokumen yang sifatnya dokumenter, puisi, cerpen, biologi, fisika, algoritme, kimia, desain grafis, lecture, story telling, ketubuhan, ritual atau ritus-ritus sosial, tari, musik atau karawitan, video atau film, dan berbagai macam pilihan kerja lainnya yang bertolak dari kebiasaan atau konstruksi yang membentuk kebiasaan dari pelakunya. Pilihan kerja ini sangat berhubungan dengan kemampuan dan keterampilan setiap pelaku pertunjukan. Secara umum saya pahami bahwa mereka yang terbaca atau memengaruhi pertunjukan pada masa kini juga tidak lepas dari kebiasaan yang dilatih dalam setiap harinya sehingga menjadi milik.

Faktor kebiasaan yang dimaksud kalau merujuk pada Boedi S. Otong (sutradara Teater Sae), sesuai dengan yang diceritakan Afrizal; memiliki kebiasaan setiap hari membaca atau nongkrongin penjual koran di depan Taman Ismail Marzuki (TIM) kala itu dengan menghabiskan waktunya sekitar dua jam lebih untuk membaca setiap berita yang terjadi, yang kemudian didiskusikan dengan Afrizal. Memakan waktu sekitar lima jam setiap harinya secara intens. Kemampuan menganalisis Boedi sebagai sutradara dilatih dengan cara demikian, dan Afrizal sebagai dramaturg memiliki satu kebiasaan untuk merespon analisis dari setiap peristiwa yang diinput oleh Boedi. Transaksi semacam ini merupakan satu ritus sosial perbincangan yang menarik untuk menciptakan satu pertunjukan yang benar-benar ingin dibicarakan oleh mereka dan kita semua.

Faktor kebiasaan saya untuk menemui Afrizal di kafe, sebagai cara saya melatih (wawasan dramaturgi kalau mau disebut begitu) mendengarkan input-input sembari menikmati kopi, nyemil kentang, dan main android membawa saya pada pemahaman medan kerja yang meletakkan kerja dramaturgi sangat terbuka; karena bisa dipakai oleh siapapun dan dapat dipinjam dari berbagai macam kerja manapun. Ketiga praktik kerja di atas hanya sebagian yang bisa dirujuk dari beberapa pertunjukan lainnya dengan meminjam banyak hal; seperti yang dilakukan Akbar Yumni (Jakarta) Menonton Filem Turang[26], Abdi Karya (Makassar/Yogyakarta) Susur Jalin[27] kolaborasi Theatr Na Nog (UK) , Densiel Lebang (Jakarta/Toraja) Another Body – Another Space – Another Time[28], Suvi Wahyudianto (Yogyakarta/Bangkalan) Lecture Performance: 2,5 cm di Balik Punggung Kebaikan![29], Theodora Melsasail (Ambon) Sampuah[30], Yennu Ariendra (Yogyakarta/Banyuwangi) Menara Ingatan (Minaret of Memory)[31], Gracia Tobing (Bandung/Tarutung) Rumah Makam Virtual[32], Alisa Soelaeman (Jakarta) Akar Air dan yang Jatuh[33], Moh. Hariyanto (Sidoarjo/Sampang) Songkok[34], S. Sophiyah. K (Surakarta/Bandung) Tur Ruang Tunggu[35], Riyadhus Shalihin (Bandung) Cut-Off[36], Wail Irsyad (Bandung/Sumenep) Biografi Garam[37], Mahendra (Sumenep) Kampung Terapung[38], Shinta Febriany (Makassar) Jalan Raya Petaka[39], Roy Julian (Medan/Jakarta) Migrasi Peti Mati[40], Ibed Surgana Yuga (Bali/Yogyakarta) Kapai-Kapai[41], dan Anwari (Sumenep/Malang) Ilusi Pasi[42], serta beberapa nama pelaku pertunjukan lainnya. Karya-karya di atas saya cantumkan sekalipun tidak diurai, karena dari beragam pertunjukan dengan latar belakang tersebut (tari, rupa, karawitan atau musik, dan teater) saya semakin mendapatkan pengetahuan tentang dramaturgi yang bisa diperiksa dan dilacak secara bersama-sama.

Uraian yang akan saya rincikan di bawah ini, hanya sebagai pengetahuan dari apa yang dilihat di masa kini baik secara langsung maupun melalui video. Karena dari pertunjukan tersebut, saya mulai banyak bertanya pada Afrizal untuk memeriksa dan melacak berbagai macam referensi dalam mengurai apa sebetulnya dramaturgi; hal yang paling mudah dipahami oleh saya. Apakah dramaturgi itu bergerak dinamis atau tidak stabil sesuai perkembangan zaman? Bisa jadi apa yang saya lakukan ini tidak penting, tetapi cukup penting pemeriksaan dan pelacakan ini untuk lebih bersikap terbuka terhadap apa pun, dan tidak akan kaget kalau kelak nantinya seorang tukang becak, tukang ojek, tukang sol sepatu, pedagang kaki lima dan security berbicara tentang dramaturgi. Sebab mereka memiliki cara kerjanya masing-masing. Karena itu, saya mencoba tengok ke belakang dengan merujuk pada ketiga pertunjukan di atas, dan beberapa nama pelaku yang sudah disebutkan (yang sudah dikurasi oleh platform-platform yang diselenggarakan oleh Yayasan Kelola, Dewan Kesenian Jakarta, Komunitas Salihara, Teater Garasi, Studio Plesungan, Biennale Jogja, dan lainnya).

Teks ini saya sebut narasi/deskripsi; karena di dalam uraiannya saya merasakan telah melakukan kerja di antara keduanya yang bolak-balik. Antara narasi dengan deskripsi, begitu sebaliknya antara deskripsi dengan narasi. Narasi semacam memberikan informasi sehubungan dengan pengalaman atau peristiwa yang saya alami; yang berupa suatu bentuk wacana dari apa yang saya ikuti, pelajari, dan ketahui dari waktu ke waktu yang sudah disebutkan. Sekalipun mungkin Anda masih merasa kurang jelas atas semua peristiwa yang dihadirkan ke dalam jalinan teks antar teks.

Pertanyaan logis yang pasti muncul di benak Anda; kalau memang merasa ragu, kenapa berani untuk menarasikannya? Jawabannya sudah disisipkan di bagian depan, dan sengaja kaitannya dengan judul saya uraikan di akhir bagian awal paparan ini. Di mana saya kombinasikan dengan paparan, uraian, dan gambaran untuk mendapatkan impresi Anda atas keingintahuan saya terhadap sesuatu. Tetapi tidak bermaksud mengajarkan, justru ingin dirasakan bersama-sama untuk diperiksa dan dilacak secara sungguh-sungguh, atau saya sebut sebagai save data yang dapat dikritisi, yang nantinya dapat direvisi, dikritisi kembali dan seterusnya berlangsung. Dari narasi tersebut kemudian setiap bagiannya saya akan sering kali coba menyimpulkan atau menganalisis secara kualitatif atau semacam eksploratif berdasarkan pengetahuan yang saya dapatkan selama ini.


Catatan Kaki (Footnotes)

[1] https://www.youtube.com/watch?v=5Fhvx_Twvpo, Poet Box # Sitor on Desktop, diakses tanggal 10 Maret 2021. https://www.youtube.com/watch?v=PEpKJtny2UQ, Teater Masker #10 Curhat 3 X 3 Meter, diakses tanggal 10 Desember 2021.

[2] https://www.instagram.com/p/CVNi01Ip0kB/?utm_medium=share_sheet, Distopia Bergerak, diakses tanggal 1 Januari 2022, dan https://www.instagram.com/artdown_forum/p/CO51J7IgesG/?utm_medium=share_sheet, Festival Puisi Jelek, diakses tanggal 1 Januari 2022.

[3] Afrizal Malna. 2020. Prometheus Pinball. Richmound, VIC: Reading Sideways Press.

[4] Sal Murgiyanto. 2018. Pertunjukan Budaya dan Akal Sehat. Jakarta: FSP-IKJ.

[5] Jihan Kusuma Wardhani. “Dramaturgi Ludruk Karya Budaya Mojokerto Jawa Timur Lakon Sarip Tambak Oso.” SATWIKA: Jurnal Kajian Budaya dan Perubahan Sosial http://ejournal.umm.ac.id/index.php/JICC Volume 3, Nomor 1, April 2019 PISSN 2580-8567 EISSN 2580-4431. Penelitian yang dilakukan Jihan merujuk pada Yudiaryani (Profesor Institut Seni Indonesia Yogyakarta) dalam bukunya yang berjudul WS Rendra dan Teater Mini Kata. 2015. Yogyakarta: Galang Pustaka, dan Eugenio Barba (pengarang dan sutradara teater, Italia/Denmark) dalam bukunya yang berjudul On Directing And Dramaturgy, Burning The House. 2010. New York: The Taylor & Francis e-Library. Baginya sangat penting meneliti dramaturgi, karena dalam pengkajian teks drama dan kajian teori dramaturgi cukup lengkap dalam pembahasannya, sebab dramaturgi sebagai pendekatan perlu kiranya dikembangkan fungsinya untuk membaca pertunjukan. Dijelaskan pula oleh Barba bahwa dramaturgi adalah kajian teater yang digunakan untuk membicarakan teater sebagai pertunjukan daripada teater sebagai “kelanjutan” naskah drama. Barba menyebut teater sebagai teks. Kata teks berasal dari kata tekstur yang berarti “rajutan bersama”. Dramaturgi dalam hal ini adalah ilmu tentang teks, dramaturgi tekstual. Dalam pengertian ini, tidak ada pertunjukan yang hadir tanpa rajutan bersama, tanpa teks. Konkretnya, pertunjukan teater adalah aksi teatrikal yang terkait dengan dramaturgi.

[6] Yuliana Fitri dan Saaduddin. “Reinterpretasi Dramaturgi Lakon Kebun Ceri Karya Anton P. Chekhov (terjemahan Asrul Sani).” Jurnal Laga-Laga, Vol.4, No.2, September 2018 Available online at:https://journal.isi-padangpanjang.ac.id/index.php/Lagalaga.

[7] Alvita dan Wiratri Anindhita. “Dramaturgi di Balik Kehidupan Social Climber.” Jurnal Komunikasi dan Bisnis. Volume VI No. 1 Mei 2018, ISSN 2355-5181.

[8] https://www.youtube.com/watch?v=x4MRV1THT9Q, Dramaturgi: WTF? Pengantar Dramaturgi dan Teater Dramaturg, diakses tanggal 3 Februari 2022.

[9] https://www.youtube.com/watch?v=mZ_Js-xUKWg, What is a Dramaturg?, diakses tanggal 3 Februari 2022.

[10] Erving Goffman. 1956. The Presentation of Self in Everyday Life. Edinburg: University of Edinburgh. Goffman melakukan pendekatan teori dramaturgi dalam kehidupan ini ibarat teater. Interaksi sosial yang mirip dengan pertunjukan di atas panggung, yang menampilkan peran-peran yang dimainkan para aktor. Untuk memainkan peran sosial tersebut, biasanya sang aktor menggunakan bahasa verbal dan menampilkan perilaku nonverbal tertentu serta mengenakan atribut-atribut tertentu. Dia membaginya dua bagian, yaitu: (1) front stage (panggung depan); yang merujuk pada peristiwa sosial yang memungkinkan individu bergaya atau menampilkan peran normalnya. Mereka seperti sedang memainkan suatu peran di atas panggung sandiwara di hadapan halayak penonton, yang dibagi kembali olehnya meliputi setting dan front personal (pribadi depan); terdiri dari penampilan dan gaya, dan (2) back stage (panggung belakang); merupakan wilayah belakang yang merujuk pada tempat pemain sandiwara bersantai dan peristiwa yang memungkinkan individu tersebut mempersiapkan perannya atau tempat berlatih untuk memainkan perannya di panggung depan. Pada back stage akan bisa dilihat banyak hal-hal yang tidak bisa dilihat saat seorang aktor berada di front stage, bisa dikatakan bahwa back stage merupakan jati diri sebenarnya dari seorang aktor. Panggung belakang biasanya berbatasan dengan panggung depan, tetapi tersembunyi dari pandangan khalayak. Ini dimaksudkan untuk melindungi rahasia pertunjukan, dan oleh karena itu, khalayak biasanya tidak diizinkan memasuki panggung belakang, kecuali dalam keadaan darurat.

[11] https://www.youtube.com/watch?v=ke44rKynhWg, Teater Tiyang alit 'Arkeologi BEHA', https://www.youtube.com/watch?v=wDyEqw2w5nk, Teater Tiyang Alit - Pementasan Teater Naskah "Tanpa Air", diakses tanggal 3 Februari 2022.

[12] Seingat saya pada workshop tersebut; Arthur mendekatkan praktik kerja dramaturginya Nano Riantiarno dengan gagasannya Bertold Brecht (1898-1956, penyair, dramaturg, dan sutradara teater, Jerman), yang dikenal dengan teknik alienasi; berusaha menghilangkan semua hal di atas panggung. Baik itu musik, teks dan gambar, dianggap sudah bercerita dan berusaha menyentakkan penonton dari ilusinya, serta membuat penonton terhipnotis. Teknik tersebut oleh Brecht diberi nama verfremdungseffekt/ v-effekt atau efek alienasi. Pertunjukan Nano sering kali didekatkan dengan teknik tersebut merujuk pada satu keadaan sekelompok masyarakat yang tidak dihadirkan secara alamiah dan cenderung membawa penonton larut atau terbuai. Karena itu, Nano cenderung menggoncang ilusi kenyataan sosial melalui alienasi dalam visual di atas panggung. Teknik Brecth dalam praktik verfremdungseffekt seakan-akan menjadi pijakan dalam pengolahan bahan setiap peristiwa. Bagaimana membuat penonton tidak lagi menyadari dirinya sebagai penonton, tetapi sebagai co-subjek yang ikut mengalami untuk berpikir kritis tentang keberadaan yang sedang disaksikan, lanskap, dan hubungan antar bangunan. Nano juga dianggap mengambil jarak antara teater dengan tontonannya, dan menciptakan ruang kosong di antara penonton dengan tontonannya. Ruang kosong tersebut akan menjadi arena di mana terjadi dialektika antara apa yang dipahami oleh penonton, dengan apa yang dihasilkan oleh sebuah pertunjukan. Visual Nano yang terkesan wah, di atas panggung juga dapat dilihat sebagai bentuk pengasingan dari pertunjukan itu sendiri, ingin membawa penonton terlempar jauh pada realitas, yang juga bisa disebut bukan realitas. Saya sebagai penonton sering kali dibawa takjub, aneh, menarik perhatian, dan luar biasa sebagai fenomena, serta membuat penasaran saya untuk mempertanyakan kembali hubungan alienasi Brecht dengan Nano. Jangan-jangan Nano memiliki caranya tersendiri yang didapatkan dari pengalaman penelitian etnografi, yang diceritakan oleh Nano sebelum mendirikan Teater Koma melakukan perjalanan di beberapa daerah di Indonesia dengan banyak menonton teater tradisi, yang dapat dilihat dari sebuah novelnya yang berjudul Cermin Bening. 2005. Jakarta: Grasindo.

[13] Dramaturgi digital ini berkaitan dengan tulisan Rebecca Rouse (dosen senior dalam seni media, estetika, dan narasi di Sekolah Informatika, dalam kelompok penelitian media, teknologi, dan budaya di Universitas Skövde, Swedia). 2013. A New Dramaturgy For Digital Technology In Narrative Theater. A Dissertation Presented to the Academic Faculty. Georgia: Georgia Institute of Technology.

[14] https://www.youtube.com/watch?v=WR48tmYjqBs, Taufik Darwis Membeli Ingatan Teater Arsip Dewan Kesenian Jakarta 2017, diakses tanggal 1 Januari 2022.

[15] https://rokateater.com/2019/03/11/kuasa-negara-dan-ingatan-tak-bertuan/, diakses tanggal 1 Januari 2022.

[16] https://www.youtube.com/watch?v=LH6BN6zW6RY, Underscore: Copy Paste Sae (Full Version with English Subtitle), diakses tanggal 8 Januari 2022.

[17] https://www.youtube.com/watch?v=BJlUpBj29Ck, Teater Sae 1991 Pertumbuhan di Atas Meja Makan, diakses tanggal 8 Januari 2022.

[18] https://www.youtube.com/watch?v=TB3K5QaBpTc, Teater Sae 1992 Biografi Yanti Setelah 12 Menit, diakses tanggal 8 Januari 2022.

[19] https://www.youtube.com/watch?v=QvqQEQZk5B8, Teater Sae 1993 Migrasi Dari Ruang Tamu, diakses tanggal 8 Januari 2022.

[20] Haifa Marwan (penulis, Teater Gantha) Di antara yang Tersimpan, dalam buku: Dewan Kesenian Jakarta. 2020. Teater Enter Don’t Forget Tukang Sayur. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.

[21] https://www.youtube.com/watch?v=UaPJEzBrgkQ, Teater Payung Hitam - Merah Bolong, diakses tanggal 3 Februari 2022.

[22] https://www.youtube.com/watch?v=NIXbnvyDiXc, Teater re-Publik: Makan Hakan #1, https://www.youtube.com/watch?v=7HALNR0i_zY, Teater re-Publik: Makan Hakan #2, https://www.youtube.com/watch?v=WG09NZyMQvg, Teater re-Publik: Makan Hakan #3, diakses tanggal 3 Februari 2022.

[23] https://www.youtube.com/watch?v=FC9CmDH9kQ4, Pertunjukan Tanah Ode Kampung Kami Karya CCL Sutradara Iman Soleh, diakses tanggal 3 Februari 2022.

[24] https://www.youtube.com/watch?v=6JsfQR1eKKQ, Mat Sisipus Proses Eksplorasi Divisi Teater UKM Seni Nanggala UTM, https://www.youtube.com/watch?v=vbDcoqnPanM, DK Jatim - Teater Exit : Pintu Di Tengah Wabah, diakses tanggal 3 Februari 2022.

[25] Pilihan kerja mimesis ini pada bagian berikutnya akan dirujuk pada beberapa pelaku dan komunitasnya masing-masing, dari era 1940-2010-an, karena saya melihat pilihan ini menjadi pilihan kerja yang paling dipilih oleh sebagian pelaku. Sekalipun praktik dramaturginya berbeda-beda sesuai dengan latar belakang dan kecenderungannya. Karena ini saya coba sedikit merujuk bahwa mimesis berasal bahasa Yunani yang berarti tiruan. Dalam hubungannya dengan kritik sastra mimesis diartikan sebagai pendekatan dalam mengkaji karya sastra dan selalu berupaya untuk mengaitkan dengan realitas atau kenyataan. Perbedaan pandangan Plato (427-347 SM, filsuf Yunani dan guru Socrates)- dan Aristoteles (384-322 SM, filsuf Yunani dan murid Plato) menjadi sangat menarik karena keduanya merupakan awal filsafat alam, merekalah yang menghubungkan antara persoalan filsafat dengan kehidupan (Ravertz 2007, 12), Jerome R. Ravertz. 2007. Filsafat Ilmu: Sejarah dan Ruang Lingkup Bahasan. (Judul asli The Philosophi of Science. 1982. Oxford University Press, diterjemahkan oleh Saut Pasaribu). Yogyakarta: Pelajar Offset. Sementara (Soedarso 1990, 28) menjelaskan bahwa banyak contoh yang dapat diambil dari seni lukis Yunani Purba atau lebih-lebih lagi seni patungnya. Bagi orang-orang Yunani, seni adalah tiruan alam atau “mimesis” (dari kata “mimic”, seasal dengan istilah “mimicry” dalam ilmu hayat) yang disebut oleh Aristoteles, “..omnis ars nature imitation est”. Soedarso SP. 1990. Tinjauan Seni. Yogyakarta: Saku Dayar Sana. Mimesis ini juga saya rujuk pada tulisan Syamsul Barry, pengajar di Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta; https://www.kompasiana.com/iiculyogya/54fff66ca33311026d50f8a0/mimesis-dan-rasionalitas-dalam-perkembangan-seni, diakses tanggal 24 Januari 2022.

[26] https://forumlenteng.org/id/fl/archives-activism-aesthetic-upaya-pembacaan-atas-kultur-sinema-asia-tenggara/, diakses tanggal 10 Januari 2022.

[27] https://www.youtube.com/watch?v=MBU4nDj3XY4, /Je-Da/ Work-In-Progress Presentations 2, diakses tanggal 10 Januari 2022.

[28] https://www.youtube.com/watch?v=krHNyqzxp6o, Another Body – Another Space – Another Time - Densiel Lebang | Helatari Salihara 2021, diakses tanggal 16 Januari 2022.

[29] https://www.youtube.com/watch?v=3fq9Mf-Gm24, Lecture Performance: 2,5 cm di Balik Punggung Kebaikan! oleh Suvi Wahyudianto & Juan Arminandi, diakses tanggal 16 Januari 2022.

[30] https://www.youtube.com/watch?v=2FNe0BNGhFE, Theodora Melsasail – Sampuah, diakses tanggal 18 Januari 2022.

[31] https://www.youtube.com/watch?v=gsFr7TvQRyY, Menara Ingatan (Minaret of Memory) - Gelang Alit, diakses tanggal 16 Januari 2022.

[32] https://www.youtube.com/watch?v=EGd8CFoYHd4, Hibah Seni 2020 - Pertunjukan Puisi Bunyi "Rumah Makam Virtual" - Gracia Tobing, diakses tanggal 16 Januari 2022.

[33] https://www.youtube.com/watch?v=CU2D4qBcoX0, Akar Air dan yang Jatuh - Alisa Soelaeman, diakses tanggal 16 Januari 2022.

[34] https://www.youtube.com/watch?v=fviCUuSHS8Q, "Songkok" By Hari Ghulur, Awardee Of Seacn3 Challenge Award, diakses tanggal 16 Januari 2022.

[35] https://www.youtube.com/watch?v=1S5lh3Kztl4, Ulupampang Menanam - Singonegaran: Tur Ruang Tunggu, Site Specific Performance, diakses tanggal 10 Januari 2022.

[36] https://www.youtube.com/watch?v=1xwVJeNGUZ4, Hibah Seni Kelola: CUT-OFF, Riyadhus Shalihin, diakses tanggal 10 Januari 2022.

[37] https://www.youtube.com/watch?v=g8071oXuJME, "Biografi Garam" Theatre Full Hd Karya Moh Wail, diakses tanggal 10 Januari 2022.

[38] https://www.youtube.com/watch?v=MEWEB2Su77U, Kampung Terapung (Language Theatre Indonesia) Re-Post, diakses tanggal 10 Januari 2022.

[39] https://www.youtube.com/watch?v=UVg0Sz26ZAE, Jalan Raya Petaka, diakses tanggal 10 Januari 2022.

[40] https://www.youtube.com/watch?v=huhQWowijek, Dokumentasi Perjalanan "Migrasi Peti Mati", diakses tanggal 10 Januari 2022.

[41] https://www.youtube.com/watch?v=1aNW2ELfsTc, Kapai-Kapai (atawa Gayuh), a theatre performance, Kalanari Theatre Movement, diakses tanggal 10 Januari 2022.

[42] https://www.youtube.com/watch?v=ERCvSVaFHoE, Ilusi Pasi | Theatre | Padepokan Seni Madura | Anwari, diakses tanggal 10 Januari 2022.