Pose Dindon WS (sutradara Teater Kubur) & Mahendra (sutradara Language Theatre Indonesia, Sumenep), di kediaman Dindon—juga sering kali disinggahi
Saya pada awal sub bagian ini ingin kembali mengutip pemikiran Gadamer dalam Wranke bahwa….fungsfi filsafat….tujuannya adalah “untuk memahami dunia dengan cara seseorang yang sama seseorang memahami perilakunya sendiri ketika seseorang mengetahui itu dengan baik. Saya kira dalam hal ini secara konstan ingin membaca ‘diri’ atas pengembangan ‘diri’ ke depan. Gagasan untuk membaca ulang perjalanan dari yang tidak mengenal istilah ‘teater’, yang kemudian ‘diri’ bekerja bertahun-tahun di luar ‘pertunjukan’ sebagai upaya mengenali perilaku sendiri; dan saya kira dengan cara ini, merupakan sesuatu yang diyakini dan diketahui kelemahan dan kekuatannya. Dirancang oleh ‘diri’ untuk ‘diri’ dibawa ke orang lain untuk ‘diri’ dan bisa beririsan dengan orang lain.
Investigasi yang dilakukan ‘diri’ terhadap ‘diri’; bagaimana sifat saya selama ini, perilaku, watak kerja, relasi sosial dan budaya, serta lainnya sudah dipastikan energi yang dilibatkan juga tidak mudah. Dituliskan secara perlahan-lahan, tidak langsung pada bagian satu, tetapi langsung pada bagian kedua, dilanjutkan bagian ketiga, yang kemudian dipikirkan untuk menuliskan awal dari keseluruhan tulisan ini. Barangkali dengan ini saya bisa ‘sembuh’ setelah merampungkan ini semua. Barangkali pengkajian ini yang diiriskan dengan penciptaan untuk mengasosiasikan ‘diri’ ke dalam proyeksi kota dalam segitiga, dalam konteks ‘diri’ dan tinggal yang dimaksud di atas; bisa disimpulkan sendiri, segitiga mana yang sekiranya memungkinkan dalam eksplorasi hubungan ‘diri’ dengan ruang teater di antara trauma, rumit, dan chaos. Datang dari pengalaman ‘diri’ dan pikiran ‘diri’ yang terbatas, bahwa pikirannya dipengaruhi oleh pengetahuan-pengetahuan terbatas itu sendiri, di mana kota atau spasial tempat saya tumbuh dan berkembang ataupun berjalan.
Saya mulai dari pertanyaan: Kenapa saya berkesenian, dan mengenal ‘teater’ di Jakarta, yang dianggap serius? Maksudnya secara serius, kalau sebelumnya hanya mengenal dengan istilah drama di saat masih kanak-kanak. Sejujurnya saya memasuki wilayah seni ‘teater’, karena hal yang kusut; kacau; tidak teratur, rumit; rusuh, dan bingung (hati, pikiran, dan sebagainya)—di mana ini semuanya bagian dari ekosistem yang terbatas berkelindan dengan chaos….. ‘Diri’ bagi saya adalah reseptor energi untuk menerima, menyerap, dan memberi kembali pada ‘diri’ lainnya untuk dialirkan secara terus menerus di mana pun tempat dipijak dan diinjak untuk menghasilkan energi itu sendiri. ‘Diri’ akan selalu bergerak jika ruang ‘diri’ yang berusaha menghasilkan jalur energi ‘diri’ untuk digunakan sepanjang ruang yang tercipta. Jika ruangnya mengalami hal yang terbatas seperti saya, maka saya juga dalam kondisi terbatas pula dapat mengambil dan menanggapi. Tetapi, hal yang terbatas tidak langsung mudah dipahami sebagai suatu kelemahan—kalau hanya dilihat sebagai kelemahan, sampai kapan ‘diri’ merasa bahwa tidak ada kelemahan. Timbul selalu merasa kuat. Dan cenderung ingin menunjukkan kekuatan dalam ‘diri’.
Saya ingin mengurai ‘diri’ terlebih dulu, yang nantinya diurai lebih lanjut ‘diri’ yang terbatas dalam kaitannya dengan ruang ‘teater’ di antara trauma, rumit, dan chaos. ‘Diri’ dapat dipahami sebagai objek sekaligus subjek yang menjadi sumber daya tarik untuk mengambil dan menaggapi. ‘Diri’ yang bisa dibawa dan diangkut kemana-mana, layaknya suatu ‘pertunjukan’ yang digunakan pada berbagai macam ruang, dengan sendiri bisa ‘diri’ itu untuk masuk dan keluar. Dan ‘diri’ sejatinya bisa menentukan awalan dan akhiran untuk apa, mau ke mana, kalau mendapatkan tantangan mesti apa, dan bagaimana cara mengatasi ‘diri’. Bebas menentukan durasi, bebas menentukan waktu, dan bebas menentukan capaian maupun target dalam ‘diri’ yang hendak diciptakan. Juga bebas membiarkan ‘diri’ tidak bersentuhan dengan masa lalu, tidak mengenali sama sekali, dan mempersiapkan ‘diri’ untuk masa depan.
Saya setelah mengurai tentang ‘diri’ di atas; setelah melakukan perpindahan dari Bangkalan ke Jakarta, Jakarta ke Bangkalan dengan memindahkan Kartu Tnda Penduduk Elektronik (KTP-EL), kemudian dari Bangkalan ke Banyuwangi, didorong oleh ‘diri’ sendiri atas tertulis dan terkumpulkannya bagian kedua ini, untuk pulang ke Bangkalan, dilanjutkan ke melakukan perjalanan ke Jakarta, untuk mewawancarai bapak dan ibu saya, atas segala macam kekerasan yang tengah terjadi, yang berhubungan dengan blater, juga era 1980-an, di era orde baru, juga mewawancarai orang-orang yang pernah beririsan kerja dengan saya sepanjang lima belas tahun lebih dalam produksi media (televisi), maupun orang-orang yang pernah disinggahi rumahnya sebagai tempat tinggal berpindah-pindah, termasuk para pedagang mie ayam hingga bakso mangkal di sebuah tempat, yang juga dijadikan tempat persinggahan tidur. Apa yang diungkapkan mereka ini tentu menjadi sumber yang berguna untuk kumpulan tulisan ini, yang menjadi bagian penciptaan. Yang didekatkan dengan pameran-pertunjukan-dokumenter; menjadi sebuah pertunjukan riset dan arsip dari masa lalu, di ruang publik, tepatnya sebuah sungai, yang menjadi memori-ingatan terkait dengan traumatik, ritual, dan ‘kebangsatan-kebangsatan’ di masa kanak-kanak.
Saya ingin membaca ‘diri’ dalam hal ini, untuk digambarkan sistem kerja sebagai hal yang reduktif. Di mana saya tidak pernah mengerti sebelumnya bahwa ‘diri’, dapat diproyeksikan sebagai gagasan. Ide keseharian dalam sebuah perjalanan biografi, semula tidak diyakini dapat dibawa ke dalam sebuah ‘pertunjukan’. Karena sampai kini banyak orang langsung mengartikan ‘curahan hati (curhat)’, yang cenderung sinis. Ada masalah apa dengan curhat sehingga gagasan semacam ini menjadi ‘gangguan’ yang tidak layak diajukan sebagai ‘pertunjukan’. Bukankah sedari tadi, saya menggarisbawahi bahwa yang dialami saya juga bagian dari ‘pertunjukan’ yang tidak diproyeksikan sebagai ‘pertunjukan’. Tantangannya adalah bagaimana hal yang bukan ‘pertunjukan’ itu, kini hendak diangkut sebagai ‘pertunjukan’ dan orang-orang menerimanya sebagai ‘pertunjukan’, bukanlah curhat—kalau misalnya ‘pertunjukan’ tetaplah curhat, kenapa tidak, adakah masalah dengan ini semua?
Saya lama kelamaan dengan sendirinya, tidak mau terusik dengan curhat, yang berkaitan dengan ‘diri’. ‘Diri’ di sini, untuk ditemukan kualitas perjalanan biografis sekaligus untuk ditambahkan berbagai macam elemen; obsesi, dijelaskan satu per satu tentang pikiran, gambaran, atau dorongan apa yang sekiranya tidak diharapkan dan kerap kali menjadi penghambat dalam aktivitas; emosi, setelah dijelaskan satu per satu terkait hubungan pikiran dengan beragam gambaran, yang menimbulkan reaksi dari perasaan ‘diri’ akan adanya ketakutan dan kecemasan, termasuk ‘gangguan’ banyak orang yang mempermasalahkan soal curhat, sekiranya hal ini dapat diukur dan dipertimbangkan secara matang, sehingga bisa melewati ‘gangguan’ yang tidak penting tersebut; dan kompulsif, perilaku yang dikerjakan berulang untuk lebih mengetahui ‘diri’ atas yang dikerjakannya atau tindakan mental yang membuat ‘diri’ terdorong untuk melangsungkan tindakan apa yang semestinya, tindakan apa yang perlu dicoba, dan tindakan apa yang segera dilakukan, atas adanya elemen obsesi tersebut, yang mesti terus dikembangkan dalam berbagai macam bentuk terkait dengan metodenya.
Elemen-elemen yang disebutkan di atas juga berkaitan dengan kesadaran ‘diri’; apakah dikonstruksi dalam situasi dan kondisi yang terbatas, atau sebaliknya, keberlimpahan, dan sangat inklusif dalam ‘diri’ yang dimiliki, bukan ‘diri’ yang hendak dilakukan. Kalau ‘diri’ yang hendak dilakukan, bisa mungkin orang akan mengemukakan bahwa mereka independen, bebas dan terbuka atas segala hal. Tetapi kenyataannya tidak langsung semudah itu. Karena ‘diri’ yang dimiliki memiliki keterbatasan tersebut. Keterbatasan selama ini cenderung tidak diakui sebagai telah memiliki batas kapasitas, keadaan, dan fasilitas memiliki ketentuan yang terbatas; tertentu, tidak dapat lebih, karena tidak sanggup dengan yang ‘dimilikinya’, bahkan juga tidak leluasa akses-akses yang diinginkan karena fakta yang ‘diberikan’ tidak memenuhi standar. Sayangnya keterbatasan ini tidak dapat dibaca dalam ‘diri’, yang akhirnya dengan sendirinya ‘keterbatasan’ juga secara menghasilkan sesuatu yang terbatas, jikalau dari awal tidak disadarinya. Pada saat mengandung banyak permukaan yang terlihat tidak sesuai dengan apa yang diharapakn terkait elemen yang disebutkan tersebut, ‘diri’ cenderung menginvetigasi atas lapisan-lapisan yang terkait. Lapisan apa yang sekiranya dapat dianggap sebagai bahan dan alat untuk membuat identitas yang berbeda dari sebelumnya? Saya langsung menyadari bahwa ‘diri’ yang terbatas itu merupakan bahan dan alat dari lapisan itu sendiri.
Saya membiarkan saja apa yang sudah terjadi, apa yang sudah berlangsung di luar ‘pertunjukan’, dan apa yang sudah dilakukan di dalam ‘pertunjukan’. Karena apa yang dihasilkan juga belum tentu sepenuhnya dirasakan. Karena antar seseorang dalam situasi terbatas tersebut, secara umumnya ingin direbutnya secara instan. Dan dapat dipastikan, apa yang diungkap dari hasil wawancara sekumpulan orang-orang itu, adalah tidak adanya inti dari apa yang diungkapkan, tetapi justru mengandung inti dari balik yang diungkapkan atas ‘diri’ jika benar-benar seksama disadarinya sebagai lapisan. Fromm sangat meyakinkan saya dalam hal ini, dengan pernyataannya bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang keberadaannya merupakan persoalan yang harus diatasi, dan yang darinya dia tidak dapat melarikan diri…dia harus mengembangkan nalarnya, sehingga menjadi tuan bagi alam dan bagi dirinya. Persoalan terbatas, yang tidak diberikan oleh semesta mesti segera diterima sebagai kekurangan yang sudah pasti tidak dapat melampaui yang lebih, subjektivitas sekaligus objektivitas dari semesta yang tidak dapat diubah keadaannya. Siapa yang mampu mengubah keterbatasan atas ‘diri’ kalau bukan ‘diri’ kita sendiri, untuk mengupas konstruksi budayanya dari perspektif yang sangat memungkinkan dimiliki. Terjadi. Dialami. Dirasakan. Bertahun-tahun. Terkena dampaknya. Seolah susah untuk bangkit akibat dari keadaan dan pengalaman atas keterbatasan tersebut. Dan semuanya perlu dinetralisir ulang dari perspektif pengalaman yang menjadi pengetahuan, sekaligus ilmu jika diterapkannya.
Saya yang menyadari memiliki kemampuan terbatas setelah merasa ketertinggalan banyak hal dari ‘pertunjukan’, yang tampak asyik dengan dengan apa yang terjadi di luar ‘pertunjukan’. Lapisan pertama kali (tanpa memikirkan lapisan berikutnya, karena hingga kini masih berada di lapisan ini) diambil oleh saya adalah metode bagaimana mengejar ketertinggalan dari sekian banyak bab di dalam ‘pertunjukan’. Karena orang-orang yang pernah dihadapkan di depan saya, yang sebelumnya mereka adalah para notulis, seketika sekian tahun (bahkan hanya sekitar lima tahunan) berubah menjadi seseorang punya kontribusi penting terhadap ‘pertunjukan’. Sementara saya mengalami kebekuan semacam ini. Terlepas bahwa ‘diri’ yang dimaksud memiliki keberlimpahan, tidak seperti saya yang terbatas; telat mikir (telmi), tidak gampang tanggap, respons yang lambat, tidak mudah menangkap pembicaraan orang lain, dan cenderung tidak percaya diri. Lapisan itu tidak lain menemukan metode dalam mengejar ketertingalan, untuk menaikkan ‘diri’ yang terbatas tersebut bertambah energi—untuk menjadikan kekuatan ke depan.
Metode bagi saya; di luar pengertian istilah dari bahasa lainnya, yang cenderung bahasa kita seperti mengambil atau menyerap dari bahasa lain di belahan dunia, bahkan juga dituding ‘merampok’ yang selama ini selalu dinafikkan, saya memahaminya cara yang sesuai dengan ‘diri’ atas penyelesaian masalah yang tengah terjadi. Kalau masalahnya adalah keterbatasan, saya mengakui terlebih dahulu bahwa ‘diri’ dibuat terbatas. Bukan dibuat ‘yang tidak terbatas’, berkemampuan lebih, serta memiliki kecerdasasan layaknya tokoh-tokoh/ilmuwan yang berpengaruh. Atau seperti notulis yang cukup berpengaruh tersebut kini; justru memiliki kemampuan yang tidak terbatas tersebut. Sementaara saya, bagaimana menyelesaikannya? Bagaimana metode yang mesti dilakukan?

Arsip yang masih tersimpan pada saat bekerja di luar ‘pertunjukan’ dengan nama tambahan; sebagai historis bahwa pernah dimiliki dengan tambahan semacam ini
(Sumber: Instagram Arung Wardhana Ellhafifie)
Metode pertama; aktivitas ‘diri’ dengan mengembalikan pada ‘awal’ permukaan ketika pindah dari Bangkalan ke Jakarta dipertemukan dengan istilah teater melalui beberapa komunitas teater. Bisa disebut metode aktivasi ulang yang ‘awal’. Seperti membangkitkan kembali permukaan yang ‘hancur’ ke dalam tubuh, menata dari yang jauh dari tubuh tetapi digunakan sebagai daya juang, dan yang ‘hancur’ itu kemudian diungkapkan. Metode ini sangat berdekatan dengan konstruksi ‘diri’ atas identitas asal, yang ‘dihidupkan’ ulang dengan tindakan yang terus-menerus dan berulang-ulang seputar ruang-ruang ‘pertunjukan’. Termasuk di dalamnya mengaktifkan ulang diskusi-diskusi kecil yang pernah digerakkan, merelasikan ulang dengan banyak komunitas teater yang pernah dikenali dan diketahui secara baik; sekalipun skalanya cukup dibilang kecil hanya mencakup suatu wilayah kota administrasi, dengan mengkolaborasikan beberapaa narasumber dari kota adminsitrasi yang berbeda. Saya kira metode ini secara subjektivitas diperlukan keyakinan yang kuat, karena berhubungan dengan tudingan-tudingan secara individual, modus kerja, dan motif pun sering kali berkaitan dengan eksistensi. Meskipun eksekusinya terbilang spontan. Bahkan terkesan memprihatinkan dilihat dari jumlah orang-orang yang berkumpul secara kontinu, hanya segelintir orang. Tetapi itu dirasa cukup bagi saya yang ingin kembali ke dalam ‘pertunjukan’.
Metode kedua; aktivitas ‘diri’ dengan mengumpulkan banyak literatur secara arsip digital, khususnya daftar bacaan ‘pertunjukan’ sebanyak-banyaknya yang bisa diakses dengan beragam cara; melacak dengan internet maupun meminta rekanan yang sekiranya memiliki banyak akses literatur yang dimaksud. Bisa disebut metode tukang pungut. Sejak mengaktivasi ulang yang ‘awal’; mengenal teater karena Jakarta, mesti disadari bahwa keadaan yang berkembang kini lebih dipermudah dengan adanya teknologi baru. Kesadaran atas kehadiran teknologi baru dan muktahir itu, mesti dipicu untuk terus tertarik menjadi tukang pungut dari daftar bacaan teater. Dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam file drive untuk disimpan secara baik. Lantas kumpulan dari pungutan itu dibuka satu persatu, atau diterjemahkan dengan cara bantuan penerjemah, atau internet, atau hanya sekadar diinterpretasi dari isi bacaan yang berbasa asing. Dari sekian banyak arsip digital teater ini, kemudian dipilih dan diberi nama yang dianggap cukup menjadi riwayat dari kinerja ‘diri’ ke depannya. Secara khusus, saya memerlukan waktu berjam-jam untuk membaca, menerjemahkan, dan memindahkan hasil terjemahan yang ‘ala kadarnya’ tersebut, untuk diberikan nama file yang baru. Saya kira metode keterbatasan, menjadi terpulihkan atas kumpulan-kumpulan bacaan tersebut, teks, dan pengetahuan yang ditransfer dan dibawakan dengan cara sendiri. Satu hal yang perlu diyakini oleh saya; nantinya hal ini bisa menjadi sebuah produk tulisan yang berwujud, dan dapat didistribusikan maupun disirkulasikan kepada khalayak luas; yang berhubungan erat dengan metode berikutnya.
Metode ketiga; aktivitas ‘diri’ dengan mencatatkan segala macam peristiwa di dalam ‘pertunjukan’; dengan menuliskan secara serius beberapa komunitas teater yang sedang membuat sebuah pertunjukan, atau menuliskan mereka yang hadir di beberapa platform yang mapan. Bisa disebut metode tantangan ‘diri’. Selain itu, hal ini tampaknya akan menimbulkan tantangan bagi ‘diri’ sendiri atas keberanian yang dicatatkan. Pemahaman ‘diri’ selama ini bisa jadi berbeda, karena ditempuh dengan cara yang lain. Daftar bacaan sekitar tiga buku yang dibuka melalui file tersebut, atau sudah diinterpretasi isi dalam berbahasa asing, dengan interpretasi saya, kemudian dibuatkan dengan file yang baru; tentang catatan apa yang ditonton. Komunitas teater yang baru saja dipertunjukkan karyanya, dimasukkan ke dalam file yang sudah diacak dalam beberapa bagian tulisan dari tiga interpretasi tersebut. Tantangan ‘diri’ ini bisa beresiko; karena bisa terasa asing oleh pembacanya, yang mungkin tidak langsung mudah dipahami dari keterbatasan yang dimaksud. Tetapi metode tantangan ‘diri’ atas kompilasi tulisan dengan interpretasi; sejauh mana memengaruhi bagi saya? Saya sejujurnya secara tulisan; bisa berdampak karena sebelumnya yang tidak mencatatkan, seketika menjadi pencatat yang terlihat ‘sungguh-sungguh’, termasuk apa yang dilakukan ini. Dan apa yang dipraktikkan dala metode ini, sebagiannya ada pada bagian dua, dan sub terakhir dari bagian ini.
Metode keempat; aktivitas ‘diri’ dengan mengungkapkan alasan pada awal permukaan ketika pindah dari Bangkalan ke Jakarta, tidak lain disebabkan menyelesaikan trauma di masa lalu, atau menjauhkan narasi ‘kekerasan’ di masa lalu untuk ‘didekatkan’. Bisa disebut metode aktivasi ulang trauma masa lalu untuk hari ini. Atau hal lainnya terkait dengan perjalanan-perjalanan ‘gelap’ atau yang menjadi historis penting secara biografis. Trauma bagi saya, perlu dicek ulang dengan harapan untuk mendapatkan cahaya dan transendensi. Dengan membawa masalah trauma saya, saya seperti menemukan ‘diri’ sendiri daripada mengetengahkan konten-konten yang diperlukan riset sungguh-sungguh. Saya begitu cukup ‘telanjang’ untuk membeberkan trauma masa lalu, sekalipun terkadang dituding dengan serampangan dan sembarangan. Saya sangat meyakini dengan menatap trauma dan mempertanyakannya, saya seperti melihat cahaya pada ‘diri’ sendiri, termasuk pada bapak dan ibu saya. Lantas dipertanyakan ulang segala macam peristiwa kekerasan domestik yang telah menimpa. Gambar-gambar kejadian pernah dibuat orang tua saya, dengan sendirinya ‘dipertunjukkan’ ulang setelah ‘pertunjukan’ selesai didistribuskan, atau dipublish. Sebagai biografi untuk keluarga saya, dipahami oleh kami bukan sebuah aib keluarga, tetapi justru self-healing, yang bisa dikembangkan pada pengembangan yang lebih luas untuk kebermanfaatan yang lebih beragam. Untuk terangkat tinggi dari ruang panggung dari dramaturgi biografis.
Metode kelima; aktivitas ‘diri’ dengan mengembangkan wacana berbeda, yang tidak hanya sekadar digunakan sebagai metode self-healing—yang bisa bermanfaat buat ‘awal’ ketika pindah dari Bangkalan ke Jakarta dipertemukan dengan istilah teater melalui beberapa komunitas teater. Bisa disebut metode aktivasi peningkatan ‘keterbatasan’. Pertanyaan yang muncul; apakah keterbatasan itu yang kemudian dijadikan sebagai metode, apakah juga tidak bisa unjuk gigi, dia tidak bisa digunakan praktik kerjanya buat orang lain? Apakah tulisan ini memang untuk dirancang dalam hal ini, untuk menemukan apa yang sekiranya memiliki kesan tersendiri bagi kami yang juga memiliki keterbatasan, khususnya buat orang-orang yang merasa terbatas. Terkadang kami atau saya khususnya jengah ketika dalam sesi wawancara yang diajukan reviewer negara, cenderung pertanyaan klasik, apa kontribusi terhadap perkembangan pertunjukan, ketika dijawab untuk orang-orang berkemampuan terbatas, terkadang cenderung tidak diterima alasan yang spesifik semacam ini. Seolah-olah tidak memiliki dramaturgi bagi kaum spesifik, yang terbatas semacam ini dan menurut mereka dipikir kurang urgen untuk memberikan bantuan terhadap kaum kami. Ini menurut saya, konsep dan pemahaman yang aneh, seolah-olah kebermanfaatan itu hanya bersifat yang luas, lantas yang tidak luas siapa yang menangani? Keterbatasan salah satu faktor dalam keputusan saya untuk meninjau kembali sejarah traumatik saya, kalau tidak ditinjau, barangkali saya tidak mampu sesehat ini dan tidak bisa berkembang. Saya mungkin akan duduk menulis, mengetik, mencatat, dan memaksakan ‘diri’ dalam keterbasatan itu untuk terus berupaya berjalan terus di sepanjang sungai yang diisi oleh arsip-arsip memori-ingatan yang direkonstruksi, diangkut, dan diperagakan. Video pun diputar mengetengahkan upaya keras dalam menyelesaikan dramaturgi biografis ini dalam setiap waktu, yang terus diiringi oleh aksi-aksi saya di sungai; sebagai memori-ingatan traumatik, sekaligus modus kerja untuk melihat kota ‘tamu’ dalam hidup saya selama lima tahun ini.
Lima metode yang diuraikan oleh saya di atas, lantas diperiksa ulang dan dibawa kepada pemikiran-pemikiran Fromm lainnya, yang menjelaskan bahwa perbedaan antara kualitas bawaan dan kualitas perolehan pada keseluruhan adalah sinonim dengan perbedaan antara perangai, bakat, dan semua kualitas psikis yang dibawa secara dasariah di satu pihak dan watak di pihak lain. Poin yang ingin diiriskan dengan metode tersebut adalah kualitas psikis yang dibawa secara dasariah, bagi saya, apa yang lebih penting dari semua ini, di luar konteks novelty penciptaan, tetapi yang paling autentik adalah pengalaman yang dimiliki oleh saya; bahwa dalam penulisan ini, juga bagian dari pengalaman yang berarti bagi saya. Dengan cara ini pula, terlepas bahwa ini semacam tulisan, tetapi merujuk pada suatu karya penciptaan yang hendak dipadukan ke dalam sebuah karya seni, yang mungkin juga non seni. Saya tidak mengerti juga apakah ini sebagai upaya untuk melepaskan ‘diri’ dari gagasan ego, dan batas-batas dari individualisme yang cenderung ditempatkan. Sepanjang dari tadi, saya berada di antara itu. Mau tidak mau, mesti saya akui secara jujur. Terkadang saya ingin tak menghiraukan sama sekali. Karena saya memiliki cara, yang diyakini berbeda dengan yang lainya.
Lima metode yang dipakai oleh saya dalam dramaturgi biografis ini—sudah banyak dilewati serangkaian dramaturgi yang dipakai dan digunakan, untuk dirujuk pada dramaturgi yang utuh memayungi dramaturgi dari bentuk-bentuk yang sudah dihasilkan sebelumnya. Kurang lebih lima tahun belakangan ini. Saya cukup berjuang keras bagaimana citra tubuh dipaksakan atas kuasa pengetahuan sebelumnya, yang nampak ‘dibodohi’ atas relasi kuasa kota sebelumnya yang bernama Bangkalan. Tidak pernah ditemukan sebelumnya wacana neo-kolonial dan patriarki. Tidak pernah disadari sebelumnya bahwa jasmani sebagai elemen yang paling utama dalam narasi postcolonial sehubungan dengan relasi kuasa, yang semakin hari ditujukan untuk mengkonfigurasi ulang tubuh di masa kini melalui pengetahuan maestro. Pengetahuan dari Jakarta, yang sepenuhnya dipraktikkan pada bagian kedua tanpa menyelaraskan dengan perspektif apapun, kecuali dramaturgi biografis berdasarkan subjektivitas pengamatan saya. pengamatan dari seseorang yang tidak bisa lepas begitu saja dari beban-beban traumatik sehingga menimbulkan kerumitan dalam setiap perjalanannya.
Di Jakarta, saya yang berfokus pada kerja-kerja di luar ‘pertunjukan’, tetaplah praktik ketubuhan saya cenderung performatif terkait hubungan lokalitas, sejarah ketubuhan yang dibentuk oleh lingkungan para blater, kiai, dan priayi, atas apa yang dilihat pada hari itu sangatlah ganjil bagi kaum urban yang melihatnya. Bagaimanapun, dengan sendirinya saya selalu mengkhawatirkan ‘diri’ sendiri dengan selalu mengartikulasikan sesuatu yang hidup dari lokalitas, yang hendak dijauhkan, tetapi tidak bisa dihilangkan dari realitasnya. Apalagi semakin hari realitas politik pada awal tahun 2000-an hingga lima belas tahun lebih, ‘diri’ semakin terus terhubung ke dalam minat ‘diri’ untuk melakukan sesuatu atas energi dan transmisi yang dibuat oleh saya sendiri.
Saya sebagai orang yang terbatas itu, mau tidak mau dicoba untuk terus bereksperimen atas pengetahuan yang dimilikinya setelah berada di Jakarta, untuk melawan ‘diri’ sendiri, apakah mampu untuk melihat minat politik dari perspektif psikis dan fisik; dan kelak untuk lebih mengabdikan ‘diri’ sepenuhnya pada kota dengan segala macam ‘gangguan;’ yang pasti tidak mudah ditempuh. Trauma dan rumit digunakan oleh saya untuk menengok ke belakang sejenak, setelah meninggalkan lima belas tahun lebih lamanya, berada di luar ‘pertunjukan’, dan tidak tidak menjadikan sumber untuk ‘melawan’ Bangkalan atas perilaku-perilaku kebuasan para blater. Ditempuhlah, dengan cara ‘mengacaukan’ segala bentuk pikiran, dan tindakan, yang diharapkan mendapatkan struktur yang dapat diukur nantinya, untuk berbicara lebih banyak dalam mendedikasikan untuk kota, yang kemudian disebut oleh komentar banyak orang; sebagai satu praktik kerja chaos.
Praktik menuju estetika chaos yang dicoba untuk menatap trauma dan rumitnya narasi kekerasan blater maupun relasi kuasa yang terjadi di Bangkalan
(Sumber: Instagram Arung Wardhana Ellhafifie)
Saya dalam praktik penciptaan tersebut, setelah mendapatkan pengetahuan teater dari Jakarta sejak pertama kali, tetapi mengambil pekerjaan di luar ‘pertunjukan’, dan kembali ke ‘pertunjukan’ dengan berusaha keras untuk merebut pekerjaan itu di dalamnya. Dengan menggunakan lima metode kerja tersebut, lama-lama saya merasa sudah bisa kembali ke ‘rumah’ awal di mana Jakarta memberi saya pengetahuan. Saya mengahbiskan waktu untuk bolak balik antara Jakarta-Bangkalan kurang lebih dua tahun, dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut. Secara garis besar, saya merasa bahagia karena yang dibicarakan adalah apa yang benar-benar diketahui oleh saya dengan segala macam tindakan yang sederhana; tindakan tidur, menyapu, mengepel, mencuci pakaian, minum anggur merah, menyanyi, memasak, dan lainnya, yang dipertunjukkan di ruang spesifik, tempat saya pada masa kanak-kanak melakukan pertarungan dan pertikaian. Pekerjaan itu secara sistematis dirancang untuk metode self-healing, terutama keluarga saya yang selalu berkelindan dengan blater. Sejatinya saya melakukan secara global, pekerjaan itu merupakan serangkaian tindakan yang digunakan secara ‘terbatas’ untuk melawan relasi kuasa atas blater, kiai, dan priayi, di mana Kosim tegaskan …blater sangat antagonistik. Di tengah jalan apa yang dikerjakan oleh saya, merasa bahwa keterbatasan ini tidak dapat mencegah dan membendung relasi yang sedang harmonis antara blater dan kiai, begitu juga dengan priayi. Saya merasa apa yang dipermasalahkan bukan menjadi milik saya, nampaknya terlalu luas dan lebar, yang dimiliki saya blater dalam ruang keluarga, yang dibawa oleh bapak terhadap ibu saya, begitu juga dengan keluarga blater lainnya.
Kinerja yang dilakukan oleh saya, tetaplah terbatas, meskipun sudah diterapkan lima metode yang di atas; untuk mengajukan hal yang lebih besar dalam konteks kebudayaan yang lebih besar pula, tidak cukup dengan metode tersebut. Artinya untuk membuka ruang yang lebih besar, sehubungan dengan relasi kuasa antara blater dan kiai yang semakin tidak bisa diganggu gugat, rasanya sangat mustahil, kalau pekerjaan itu digunakan ‘mengganggu’ kekuatan tersebut, karena bagaimanapun dalam sistem politik dan budaya.. blater menggunakan cara penggiringan paksa lewat aksi-aksi kekerasan, meneror, intimidasi, dan sejenisnya…jasa-jasa premanisme, banditisme, dan jagoanisme kian marak dipergunakan oleh para elit politik, terutama elit politik yang dipimpin oleh kiai. Tidak ada proyeksi ambisius sehubungan dengan estetika chaos. Justru proyek dari elemen yang sudah dibicarakan di atas, berada di luar seni, tepatnya non seni dalam seni. Akhirnya sangat disadari oleh saya dianggap membayakan keluarga. Saya tidak ingin kembali, dengan menciptakan rasa tidak aman buat ibu dan bapak saya. Tidak ada narasi blater yang dominan hubungannya dengan kiai, pada pekerjaan itu. Meskipun sebelumnya dipersiapkan data-data hegemoni kekuatan blater, yang dilindungi oleh kiai…seperti yang disebutkan Ishaq, ….keturuan dari trah kiai Kholil memperebutkan kursi jabatan sebagai orang nomor satu di Bangkalan. Begitu besar pengaruh kiai Kholil bagi masyarakat Bangkalan meskipun mereka tidak mengenal dan hidup pada zamannya, yang disebutkan oleh saya seorang sayyid.
Nama sayyid ini, oleh masyarakat Bangkalan khususnya disimbolkan sebagai seorang tokoh ulama besar, dan diyakini mempunyai kekuatan gaib yang digunakan untuk melindungi masyarakat dari segala marabahaya, yang menyebabkan watak kami seperti tahi kucing rasa cokelat, sebagai hidangan dari pagi sampai malam. Saya mesti mempelajari banyak hal, dengan mengembangkan metode berikutnya untuk melihat lintas budaya yang jauh lebih eksploratif sehubungan dengan mitologi, mistifikasi, maupun tradisi secara konservatif. Saya akhirnya memutuskan seketika pada berbagai macam pendekatan yang lebih biografis dengan mengubah dramaturgi traumatik dari kekerasan blater, menjadi dramaturgi yang lebih ke dalam ‘diri’, yaitu dramaturgi baper; sistem operasi gagasan terlibat secara emosional; mencintai, memberi, dan ingin memiliki, membenci, mencaci, memaki, memanfaatkan peluang, dan melukai perasaan, serta depresi. Saya justru mempersempit tubuh di dalam penggunaan sehari-hari yang dibawa ke dalam ‘pertunjukan’. Membuat perubahan yang seketika pada saat pertunjukan berlangsung, menyebabkan chaos, seperti yang ditulis oleh Mahendra; sebagai dramaturgi chaos atau jurnal dramaturgi “kegagalan”.
Dedikasi terhadap kota yang semula diniatkan, atas perpindahan ruang dari Bangkalan ke Jakarta, dengan pengetahuan teater sudah dapatkan menggunakan kekuatan psikis saya dalam memperluas batas tubuh ‘diri’ sendiri; diharapkan performance-lecture, itu sebagai pertunjukan multidisiplin dengan banyak medium yang digunakan sebagai pameran ‘trauma dalam diri’ saya dengan menggunakan tempat yang spesifik yang disaksikan oleh bapak dan ibu saya, dimainkan oleh bapak dan ibu saya dalam video dokumenter, yang diasingkan terhadap khalayak luar, bahwa itu di luar ‘keluarga’ saya, yang di akhir pertunjukan, dijelaskan bahwa kekerasan dalam dokumenter itu merupakan suatu praktik kenyataan dari bapak saya. Perlu dicatat dan dievaluasi oleh saya, ibu saya tidak sampai menyelesaikan tontonan hingga pertunjukan selesai, ibu meninggalkan arena pertunjukan bersama bapak saya lebih dulu, karena sempat tidak sanggup membawa memori-ingatan ke masa lalu dengan menitikkan air mata, dan membutuhkan waktu sejenak untuk rehat di rumah.
Tidak ada cerita tentang kebermaanfataan ‘diri’ terhadap kota, dalam situasi yang terbatas. Fakta-fakta yang digugah atas kekerasan blater, juga dibicarakan Turmudi dalam Ishaq bahwa jaringan kekuasaan kiai dalam ranah sosial kemasyarakatan adalah modal politik yang begitu besar dan menentukan ke mana dukungan diarahkan, sebab ia mempunyai kekuatan memandu orang kalau tidak ingin mengatakan “menghipnotis” masyarakat hingga ke tingkat akar rumput. Blater selalu berada di balik jaringan tersebut, yang tidak dapat dijelaskan bahwa semua orang tetaplah mencintai keturunan sayyid. Tidak peduli terhadap berita-berita penangkapan sebelumnya atas kasus korupsi keturunan sayyid. Tidak peduli berapa banyak jumlah uang yang dihabiskan keturunan sayyid. Mereka tak memikirkannya. Hal yang paling pokok, mereka merasa sudah mengabdi terhadap keturunan sayyid. Sudah diyakini jalan menuju surga. Secara rasional hal ini terasa luar biasa, karena menyangkut relasi yang ‘panas’ dan ‘ajaib’.
Hal yang benar-benar ditunjuk secara riil adalah chaos, dominasi kelas blater, yang pernah dibayangkan oleh saya, kemudian coba ‘dilawan’ dengan praktik kerja ‘pertunjukan’, di tengah jalan dibatalkan karena seperti melakukan suatu pembangkangan terhadap yang lebih ‘panas’ dan ‘ganas’. Kuntowijoyo dalam Ishaq menyebutkan budaya kekerasan di Madura lahir akibat sumber daya alam yang tandus dan kemiskinan yang melanda pulau Madura…diterangkan pula oleh Raditya secara geneologis, ….kriminalitas mulai banyak terjadi dan menjadi aktivitas sosial yang kemudian mengganggu sistem perpolitikan kerajaan dan kolonial pada tahun 1840-1850, setidaknya masyarakat Madura dipenuhi dengan ‘teater’ pembunuhan di alun-alun kota. Berbagai macam peristiwa ‘teater’ yang terjadi di Bangkalan; penangkapan keturunan sayyid, penembakan aktivis anti korupsi, keturunan sayyid ‘jalan-jalan’ dari penjara untuk mendukung keturunan sayyid lainnya dalam pemenangan pemilihan kepala daerah, serta beragam teater yang lebih mengesankan daripada ‘pertunjukan’ di panggung, semakin meningkatkan persepsi ‘diri’ untuk terus berjalan pada keseharian yang menghubungkan akivitas mereka dengan kekuatan ekstra-indera masing-masing. Sekalipun tetaplah tidak bisa mudah leluasa melihat keterbatasan tersebut, untuk membicarakan ruang blater yang hendak dipilih, ternyata perubahannya begitu kuat dan berenergi lebih dahsyat daripada yang dibayangkan sejak hijrah.
Kondisi ‘diri’ yang tetaplah terbatas itu, apakah masih memiliki harapan untuk mengembangkan wacana dedikasi terhadap kota untuk berbagi pengetahuan terhadap blater, khsususnya untuk mengubah paradigma. Keluar sejenak dari kondisi yang beku. Apakah saya masih tetap bertahan dengan mengembangkan kelima metode di atas, seakan-akan terasa sudah bisa melihat ‘ketertinggalan’ untuk ‘melawan’ bara panas dari relasi kuasa yang dibangun oleh kelas blater dan kiai—yang dibuntuti kelas priayi, di belakangnya. Hanya saja, penarikan ‘diri’ ke dalam ruang lingkup yang lebih sempit dari pekerjaan saya, lebih biografis, sekilas masih dianggap semacam ‘penyelamatan diri’ atas keterbatasan tersebut. Saya seketika merasa tertantang untuk menemukan cahaya buat kota yang pernah ditinggalkan. Saya merasa pengetahuan teater untuk ‘diri’ dan mesti dilanjutkan kebermanfaatannya untuk kota. Bukan lagi pada ‘kenyamanan’ dalam self-healing untuk saya, ibu saya, dan bapak saya. Setelah itu, dianggap selesai. Apakah pertunjukan biografis hanya dipahami semacam demikian. Semula saya begitu ‘terbatas’ menatap hal-hal yang sifatnya berada dalam ‘diri’. Hingga akhirnya dirancang “arsitektur tubuh masa depan”, untuk melihat hal yang lebih luas melalui medan kerja blater sebagai kelas yang paling sering ‘diganggu’ dalam mempertentangkan pikiran.
Sejarah historis blater yang dipresentasikan kepada para blater di luar ‘pertunjukan’
(Desain grafis: Ali Ibnu Anwar)
Saya menunjuk pada peristiwa yang chaos, secara otomatis pikiran saya ikut chaos dan terus terbawa ke dalam ‘pertunjukan’. Sejenak saya memulai ‘gangguan’ itu dengan melakukan pekerjaan yang dirujuk dari sistem ekologi, yang berhubungan dengan blater. Sehingga muncul pertunjukan; Kepada yang Sakit. Saya coba mengajaknya untuk menengok ke belakang sejarah blater. Sejatinya mereka adalah bandit yang melawan kesewenang-wenangan, dengan tirakat mereka, meditasi mereka, dan perilaku-perilaku ritual dan upacara mereka untuk menempa ‘diri’, bertahun-tahun yang akhirnya tersulut juga ‘gangguan’ sehari-hari yang terkait dengan kemiskinan masyarakatnya. Menengok ke belakang, sembari minum kopi dilakukan di luar ‘petunjukan’ yang tidak kalah hebat alur dramatiknya dengan ‘pertunjukan’. Chaos, di antara keluarga kami juga mengalami ketegangan atas tengok ke belakang tersebut. Seperti tidak menerima hal-hal yang historis, yang sudah banyak bergeser, bahkan sejak saya meninggalkan Bangkalan, dengan segala atribut blater yang dimaksud. Blater di kala itu, lebih menggunakan konsentrasinya secara pikiran, untuk diaplikasikan kepada masyarakat, yang kontradiktif dengan realitas hari ini. Para blater dulu setiap individunya mampu menyesuaikan diri dengan dunia batinnya dan, dengan demikian, lebih mampu untuk mengembangkan bentuk pengetahuan ‘diri’ tertentu dan mampu melawan ketidakadilan, yang berbanding terbalik dengan kini.
Saya coba memasuki historis atas diterapkannya lima metode di atas melalui kampung saya, merasa seketika independen (dengan melupakan yang dasar—bagaimanapun tetaplah terbatas), sejujurnya hanya tersulut pada proses kebermanfaatan antara seni dan masyarakat, tanpa memiliki dan kesadaran yang paling dasar adalah pengakuan atas ‘diri’ saya untuk berefleksi dan mengisi ulang apapun itu untuk dicharge secara terus menerus. Muncullah gagasan dari kampung untuk kembali, sebagai “arsitektur tubuh masa depan”; yang diharapkan menjadi paradigma alternatif. Dan tidak terpikirkan tentang kegagalan dari proyeksi ambisius semacam ini, karena diyakini dari kelima metode yang diterapkan dapat merengkuh hal yang lebih luas. Bagaimanapun tidak berpikir tentang kegagalan, padahal “kegagalan” dari pekerjaan dramaturgi traumatik dari kekerasan blater, diubah menjadi dramaturgi baper; yang lebih privat sudah dinyatakan “gagal”. Dan Fromm menjelaskan bahwa kegagalan merupakan usaha untuk mencapai kedewasaan dan integrasi secara keseluruhan kepribadian adalah kegagalan moral dalam pengertian etika humanistik, yang tampaknya dinafikkan begitu saja, seolah-olah itu bukan “kegagalan” yang mesti diulang pekerjaannya; sebagai suatu kerja arsitektur.
Saya melihat kala itu, jika merujuk pada sifat dari arsitektur itu sendiri ditujukan pada satu hal yang kokoh, kuat, orisinal, unik, menarik dan tidak rapuh, serta berkarakter dalam konteks paradigma atau diskursif, yang diharapkan mèkkèr paongghu (berpikir sungguh-sunggh) untuk menatap masa depan. Sehubungan dengan regenerasi setiap personal-komunal. Artinya berpikir sungguh-sungguh dalam keterbatasan. Berdasarkan pada satu keadaan kelompok masyarakat yang tampak berada dalam pembangunan statis oleh kelompok kuasa tertentu, yang disebut elitisme. Elitisme di Bangkalan dipahami saya sebagai suatu keyakinan personal dengan membentuk jejaring elit dalam dominasi kelas. Diutamakan pada relasi keluarga dan kerabat untuk mendapatkan pengaruh atau otoritas lebih besar daripada kelompok tertentu. Karenanya cenderung dan berupaya memiliki kualitas intrinsik, kecerdasan pada konteks kekuasaan, berlomba-lomba menambah kekayaan, dan mempersempit ruang gerak sekelompok oposisi seperti kaum anti-elitisme, egalitarianisme, dan populisme—contoh nyata terjadi di kampung saya.
Saya justru semakin bergairah dalam pengamatan bahwa kaum elit di Bangkalan juga mengkader keluarga atau kerabatnya sebagai bagian dari elit sosial, maupun memberikan hak istimewa berupa sokongan dana terhadap sekelompok masyarakat yang dinilai sebagai golongannya. Di antaranya banyak masyarakat Temor Lorong yang dikader dan diberikan hak keistimewaannya. Setiap relasi personalnya mengendalikan alur dan alat produksi masyarakat relatif besar. Diberikan hak posisi istimewa di lembaga-lembaga tertentu dengan menyisakan segala macam problematika publik. Terutama persoalan kemiskinan, yang menandakan adanya kerentanan demokrasi—yang sering disuarakan oleh saya dari pintu ke pintu, sebagai seseorang yang pernah pindah dan berusaha ‘kembali’ juga keadaannya sebagai chaos yang rentan namanya problematika.
Problematika ini sangat penting ditegaskan kembali melalui pemikiran-pemikiran populisme (itu yang sering digaungkan oleh saya dalam beberapa kesempatan), di antaranya seperti For a Left Populism, yang diuraikan Chantal Mouffe (ahli teori politik, Belgia) mengetengahkan bahwa demokrasi adalah medan kontestasi, dengan berlandaskan pada prinsip kesetaraan dan kedaulatan rakyat, di mana pelbagai kemungkinan alternatif dapat terjadi. Hal yang paling utama berkaitan dengan kerentanan demokrasi ini, kaum elit sosial semakin mengendalikan tatanan yang lebih totaliter. Sementara masyarakatnya tidak memiliki kesiapan untuk memutuskan mata rantai alur dan alat produksi tersebut. Sebagaimana masyarakat kampung saya semakin asyik dan menikmati permainan kaum elitis, yang sangat memungkinkan kelak bisa melakukan pembunuhan terhadap demokrasi di tengah-tengah tumpulnya nalar publik. Dikarenakan ketimpangan dan berat sebelah antar kelas. Pemikiran populismelah sebagai tempat yang menyediakan strategi yang tepat untuk memulihkan dan memperdalam cita-cita kesetaraan dan kedaulatan rakyat yang memang bersifat konstitutif terhadap politik demokrasi. Dan saya lupa, bahwa keseluruhannya merupakan koneksivitas antara blater, kiai, dan priayi, yang dengan mudah cepat menjadi pembicaraan atas wacana diskursus saya di langgar-langgar/musala, maupun beranda rumah; yang kemudian pada saatnya mengalami kesendirian yang disimpulkan sendiri.
Kesimpulan saya atas kelanjutan dari “kegagalan” itu: Sikap populisme terhadap kaum elit sosial di Bangkalan bagi saya, terutama di kampung saya yang kemungkinan belum final. Hal ini dapat dipahami sebagai situasi yang krisis. Dan dalam kondisi krisis saat ini tantangan bagi strategi populis kiri adalah menekankan kembali pentingnya ‘persoalan sosial’, dengan mempertimbangkan peningkatan fragmentasi dan keragaman ‘buruh’ tetapi juga kekhasan pelbagai tuntutan demokratik. Persoalan sosial ini tentu sangat berhubungan dengan survivalitas masyarakat kelas sosial bawah akibat sistem perkotaan yang dirasakan mengalami problematika akut per eranya. Khususnya era dinasti politik di bawah kepemimpinan keturunan sayyid ini dan kerabatnya, yang semakin menciptakan kesenjangan dan diskriminasi antar kelas di kampung saya khususnya.
Hal lainnya; populisme saya kira dianggap sebagai pilihan yang tepat sebelumnya dengan menggunakan rute dari segala macam peristiwa yang dialami oleh kami semua. Dan dibebaskan kepada masyarakat setempat untuk mengintervensi catatan kritis ini, yang kemungkinan bisa memberikan peluang terbuka dalam memproduksi pengetahuan baru dan meningkatkan diskursif publik, yang juga berhubungan dengan populisme di Bangkalan. Harapannya semacam itu. Tetapi apa yang terjadi, lagi-lagi saya disadarkan bahwa kemampuan terbatas, diperlukan banyak metode sebelum melangsungkan pada medan kerja yang lebih luas. Bukan hanya sekadar menawarkan gagasan Barat untuk kultural kami. Saya coba kaji ulang dari pengertian Laclau mendefinisikan populisme sebagai strategi diskursif untuk mengonstruksi batas politik yang membagi masyarakat ke dalam dua kubu dan menyerukan untuk memobilisasi rakyat (‘underdog’) melawan penguasa (‘those in power’). Populisme bukanlah ideologi dan tidak bisa diatribusikan pada program-program tertentu. Di sini saya langsung terefleksikan karena bagaimanapun kami ada di Timur, yang lebih tenang, sekalipun bermasalah, tidak bising, sekalipun juga diperalat oleh sekelompok, kami tidak banyak menuntut, sekalipun diam-diam dimanfaatkan. Tahu-tahu teror-teror dari blater pun muncul pelan-pelan; …Ishaq sudah mencatatkan singgungan kerutunan sayyid dengan blater, menjadi lebih dominan… .dianggap perbuatan cangkolang apabila tidak mengikuti kiai…meskipun hati nurani dan rasionalitas masyarakat bertentangan dengan kenyataan sebenarnya, mereka mendukung dan mengikuti instruksi kiai semata-mata dimanfaatkan oleh kiai atau blater.
Intimidasi secara struktural maupun psikis—yang sudah dikhawatirkan sebelumnya kini benar-benar chaos, dan membuat suatu ketegangan yang berulang dalam keluarga. Terlebih lagi setelah pekerjaan berikutnya pada Rong Dhelem; yang dibicarakan kasus-kasus kiai yang ditemukan memperkosa santriwatinya, dituding sebagian jiwanya adalah blater, yang semakin membuka tabir-tabir yang lain. Secara tidak langsung, ada di antara kerabat yang menanyakan atas pekerjaan ‘pertunjukan’ terkait kasus-kasus kiai, yang dengan sendirinya bisa menyeret kepada kiai yang menyadang status blater. Bahkan kenyataan yang baru lainnya juga muncul, keturunan Sayyid yang berbeda juga berakhir di penjara akibat kasus korupsi, juga tetaplah bersinggungan dengan para blater yang dijaga dan diasuh selama ini.
Saya pun mulai semakin mengenali ‘diri’ sebagai seseorang yang terbatas itu, dan cenderung berada dalam kesendirian dan keheningan, sebagai praktik kerja mekanisme dan struktur saya dalam refleksi diri. Terus dipulihkan. Agar saya tidak rentan untuk mudah masuk menembus “kegagalan”, yang justru menjadi kekerasan sepenuhnya. Dan satu-satunya kepercayaan yang penuh dipercaya atas pengetahuan terbatas ini, sumbernya sebagai daya juang tetaplah ‘pertunjukan’. Semenjak mengenal istilah teater; rasa pemberdayaan diri yang didapatkan dari teater untuk mengendalikan ‘diri’ dan refleksi diri secara intrinsik terus tumbuh. Saya kira cukup logis ketika meninggalkan bayangan-bayangan hal yang relevan terkait fenomena, atas dedikasi kota. Barangkali bisa berpikir untuk melihat metode tambahan untuk menjangkau hal yang lebih luas, atau memungkinkan dedikasi itu ‘diistrihatkan’ untuk kebudayaan secara terbuka. Tetapi mungkin ada yang bisa didekatkan dengan cahaya kita sendiri.
Saya kira itu dapat disebut pengalaman energi, di saat memunculkan keinginan yang menggebu-gebu untuk proses kebermanfaatan secara luas, tetapi di sisi lainnya, keterbatasan yang dimiliki semacam genetika yang turun-temurun. Bahkan mungkin saya tidak memiliki keturunan trah sayyid—tidak ada juga data yang dapat dipastikan, tetapi hal ini bisa dilihat serangkaian peristiwa yang dialami oleh saya untuk mengulang pilihan kesendirian dan kesepian, dari hal-hal yang ditunjukkan sebelumnya, yaitu chaos secara riil. Termasuk gagasan atau ‘momen populis’ yang diangkut ke kampung halaman dengan dicirikan dengan kemunculan pelbagai resistensi terhadap sistem ekonomi-politik yang dianggap sedang dikontrol oleh segelintir elit yang tuli terhadap pelbagai tuntutan kelompok ‘liyan’ di masyarakat, dirujuk pada analisis kampung saya yang dipahami sebagai representasi relasi kuasa kaum elit sosial. Hal ini sangat memungkinkan dugaan bahwa kota mengalami “kegagalan”, dan Temor Lorong mengalami ‘sarkasme’ dengan sendirinya dalam praktik pekerjaan yang ditunjuk. Tetapi saya pun harus mundur teratur melihat keselamatan ibu dan baapak saya, yang diperlukan periode penarikan di mana saya secara spontan mesti bisa menyusun polanya untuk membangun itu semua. Kini saya tunjuk hal yang chaos dalam kehidupan riil sebagai proyeksi estetika.
