Background mobile

Catatan

Cerita dan Catatan dari Border Crossing Space Burneh.

Tahi Kucing Rasa Cokelat, Hidangan dari Pagi sampai Malam

Mengumpulkan Catatan dalam Potongan-Potongan Memori-Ingatan

Pedagang asongan di kereta

Arsip yang diakses dari internet, membawa kepada suatu memori-ingatan di saat melakukan perjalanan kereta api yang penuh dengan pedagang asongan. (Sumber: https://www.aboeagara.com/2019/10/5-hal-yang-bikin-kangen-naik-kereta-api-sama-dia.html)

Saya ingin membuka tulisan ini dari pernyataan Hans-Georg Gadamer (1900-2002, filsuf Jerman) yang menjelaskan masalah pengetahuan historis adalah bahwa pengalaman yang dimiliki seseorang tetapi pengalaman orang lain, kelompok lain atau bahkan kebudayaan lain.[1] Pengalaman saya yang ingin dibagikan untuk dicatatkan ulang nantinya sekaligus dikritisi atas akumulasi catatan-catatan ini melalui pengalaman orang lain. Nama Gadamer diperkenalkan pertama kali oleh seorang mendiang penyair sejak menginjakkan kaki pertama kali di Jakarta, selain nama-nama Carl Gustav Jung (1875-1961, psikoanalisis Swiss) dan Erich Seligmann Fromm (1900-1980, psikoanalisis Jerman-Amerika), yang akhirnya lebih dipilih pada bagian satu dan bagian tiga, diposisikan tulisan ini pada perspektif psikologis daripada filosofis. Meskipun terus berkaitan dengan hal tersebut, maupun secara antropologis dan etnografis. Dalam paragraf pembuka ini, saya ingin menggarisbawahi terlebih dahulu bahwa bagian satu dan bagian tiga ditulis cukup singkat dibandingkan bagian dua bukan tanpa alasan, karena dia sebagai historis dari bagian dua, sekaligus pembuka historis ke depan tentang biografis saya melalui bagian ketiga dalam dramaturgi biografis—untuk dipahami oleh diri saya sendiri yang juga berhubungan dengan dimensi eksistensial maupun sosial, sebagaimana mempelajari atas pemahaman Gadamer dengan proyeknya tentang pembebasaan hermeneutika dari batas-batas estetis maupun metodologis.[2]

Saya memilih Jakarta sebagai kota kedua setelah Bangkalan, bukan tanpa sebab. Memang tidak pernah terlintas nama kota itu sebelumnya. Hanya dinarasikan dari mulut ke mulut bahwa beberapa orang di kampung saya, Temor Lorong, Kecamatan Burneh. Ada yang bekerja di sana. Beberapa tetangga terdekat juga ada di kota tersebut. Bahkan teman sepak bola antar kampung juga di sana; ada yang bekerja sebagai pegawai Bank Perekonomian Rakyat (BPR, sebelumnya bernama Bank Perkreditan Rakyat), ada yang bekerja sebagai tentara di Yon Arhanud 6, Tanjung Priok, dan ada mendiang saudara tiri dari bapak tiri saya bekerja sebagai pegawai perusahaan penyedia Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Bagi saya, Bangkalan sudah dipastikan tidak memberikan lapangan pekerjaan untuk ‘diri’, karena praktis sejak lulus Sekolah Menengah Atas (SMA), dua tahun hanya menganggur. Makan tidur di rumah. Berak dan kentut. Dua hal yang silih berganti dilakukan, seperti tak tergantikan satu sama lainnya.

Hal lain yang sering kali dinarasikan oleh para tetangga; harus membayar uang sogokan untuk menjadi seorang tentara sekitar sepuluh juta rupiah kala itu. Mengingat tinggi saya kurang dari ketentuan, diperlukan uang lima belas juta rupiah kemungkinan besar dapat diterima untuk berseragam dan berpangkat, dan itu pun tesnya di Makassar, melalui seorang tukang pangkas rambut (sebagai makelar), yang biasa menjadi langganan para perwira. Salah satu contohnya teman sepak bola antar kampung tersebut. Mau kembali ke pesantren mendiang Kiai Achmad (lima ratus meter dari rumah saya), sudah terlanjur disebut ‘maling’. Sedari dulu, kampung ini tidak dikonstruksi oleh cermin-cermin revolusioner, melainkan pedekatan pragmatis dalam interaksi sosial dan budaya. Antar personal sudah dibiasakan semacam demikian. Untuk menjadi seorang pemimpin pun, pilihan-pilihan oportunis dan pragmatis sudah dimiliki tanda dan penandanya. Jadi bagaimana mungkin bisa memiliki sistem yang dapat memunculkan reaksi perlawanan terhadap kesewenang-wenangan mau melakukan suatu pemberontakan terhadap hal yang dipandang mengganggu nilai-nilai kemanusiaan. Tidak ada yang membicarakan soal sains, solusi, teknik, maupun teknologi. Bahkan teknologi maupun pengetahuan tradisional pun tidak pernah dibicarakan sama sekali. Sementara Gadamer berpandangan modernitas itu dicirikan oleh kepercayaan terhadap sains yang mengandalkan semua masalah merupakan masalah teknik yang bisa dipengaruhi oleh solusi teknik dan tergantung pada kemajuan di dalam sains.[3] Saya dari dulu sudah ragu, bahwa kampung itu bisa berkembang secara pemikiran, kalau berkembang secara materiil, cukup diyakini bahwa itu bisa terjadi; semuanya saling berlomba-lomba untuk memperindah rumah maupun memperbanyak koleksi mobil, serta mempercepat nama dengan gelar haji—bahkan ditambah haji dua kali atau tiga kali dan seterusnya.

Cita-cita apa yang dibayangkan sesaat kala itu? Mau jadi blater (jawara lokal)’; istilah lain dari blater adalah bajingan. Namun, menurut komunitas blater, status sosial bajingan dipandang lebih rendah. Bajingan dikenal sebagai sosok yang angkuh, kasar, sombong dan suka membuat keonaran. Aktivitas yang melekat pada bajingan adalah; berjudi, minuman keras, main perempuan, poligami, mencuri, merampok, dan bentuk-bentuk kriminalitas lainnya,[4] nampaknya sanksi untuk masa depan saya—dan dikhawatirkan lebih menyedihkan ibu saya sepanjang kami hidup. Merujuk pada mendiang paman saya, di masa tuanya (menyisakan tinggi badan yang jangkung kriput dengan celurit di balik pinggang), juga seorang blater yang hidupnya hanya lontang lantung antara Jakarta-Bangkalan, menghampiri para blater yang kaya raya, juragan besi tua—juga secara umum seorang blater, maupun juragan mebel kayu dari sepanjang area Cilincing hingga Klender. Disisir dan diperkenalkan kota itu terhadap saya dengan bangga olehnya.

Pilihannya yang dibayangkan dalam benak saya kala itu; antara mau jadi blater, atau merantau ke Jakarta untuk waktu yang lama setelah diperkenalkan oleh seorang paman blater. Sekitar dua mingguan kota itu ditatap dengan segala pertimbangan, lalu saya kembali ke Bangkalan; untuk menemukan kehidupan ‘diri’ sendiri atas identitas yang hendak dimiliki dalam jangka panjang. Dibutuhkan medan terbuka yang lebih luas, dan kini saya baru mulai mengerti tentang hal demikian, seiring dengan pernyataan Henrik Johan Ibsen (1828-1906, dramawan Norwegia) dalam Fromm bahwa selama manusia tidak dapat hidup, dengan meragukan identitasnya, maka dia harus, dalam orientasi pasar, beroleh pendirian identitas bukan dalam acuan kepada dirinya atas kekuatannya, melainkan dalam pendapat orang lain tentang dirinya.[5] Dipilihlah untuk menjadi seorang berbeda daripada kebanyakan orang Temor Lorong pada umumnya, atas argumentasi paman blater itu (sisi lain seorang blater) yang bisa dipercaya.

Saya mau jadi penulis; pilihannya kala itu menulis fiksi (novel) yang paling memungkinkan untuk dikerjakan. Bukan tulisan non fiksi seperti ini. Dengan mesin ketik yang dimiliki, dituliskan kata per kata hingga bertumpuk-tumpuk kertas jadi serangkaian cerita; yang kemudian nekat untuk ditawarkan ke penerbitan besar seperti Gramedia Pustaka Utama. Barangkali saya tidak sendirian berada dalam kebingungan untuk menentukan ‘diri’ dan mencari perubahan yang lebih luas; keluar dari titik fokus perundungan, atau bayangan sebagai korban bullying di masa kanak-kanak, atau sebagai seseorang yang sudah dicampakkan oleh mendiang bapak kandung saya sejak berusia dua bulan dalam kandungan, didorong lagi atas sikap ‘kekurangajaran’ saya yang menghabiskan uang sepuluh juta rupiah (pemberian bibi saya—yang pada sub bab lain diceritakan sebagai narasi yang berkaitan) hanya untuk berfoya-foya bersama tiga teman (yang dianggap kini sebagai kenalan ‘bangsat’).

Satu pilihan yang tampak teguh dengan sendirinya; otomatis dengan sisa uang yang sudah terpakai, hanya sekitar kurang lebih lima puluh ribu rupiah mau tidak mau mesti melakukan perjalanan ke kota Jakarta, untuk menentukan nasib sebagai manusia yang sama. Ide bahwa manusia diciptakan sederajat menunjukkan betapa manusia memiliki hak fundamental yang sama untuk dianggap sebagai tujuan dalam diri mereka sendiri dan bukan sebagai alat.[6] Dengan harapan novel yang ditulis diterbitkan. Apapun yang terjadi saya harus menempuh jalur hidup di luar blater—yang cukup mengerikan kini bagi saya. Dulunya biasa saja. Karena secara kultural, peranan dan pengaruh orèng blater biasanya diperoleh….ilmu kanuragan, ilmu bela diri, ilmu kekebalan, sikap pemberani dan jaringan anak buah yang banyak dan luas…; keterlibatannya dalam dunia kriminalitas dan aksi kekerasan, baik langsung maupun tidak langsung menjadikan orèng blater semakin “disegani”, bukan saja oleh masyarakat, tapi juga oleh aparat negara.[7] Ditinggalkan kampung halaman, dengan bayang-bayang Bangkalan—yang membawa segudang masalah dalam hidup saya, menyisakan segala macam potongan-potongan memori-ingatan psikologis dari waktu ke waktu.

Berita keinginan saya merantau ke Jakarta menjadi tersebar kepada seluruh kerabat, termasuk kepada keluarga yang berada di kota yang berbeda di pulau yang sama, Madura. Ada etika yang mesti dilalui sebagai seseorang yang masih berusia sekitar dua puluh tahunan, mesti melakukan ritual-ritual tertentu. Tentu saja tak dihiraukan sama sekali. Hanya serangkaian tindakan yang dilakukan oleh saya kala itu. Saya duduk bersila di atas bale preng; bangku bambu (mirip dipan) di depan beranda rumah kayu seorang paman, juga seorang blater. Berusaha tak bergerak ketika berhadap-hadapan dengannya, disaksikan dua orang paman lainnya dan tiga orang saudara jauh. Ditusuk jari tengah kanan saya hingga mengeluarkan darah, yang ditadah dengan kain putih. Tubuh saya tampak terasa lemas. Mata berkunang-kunang. Seketika sakit kepala. Kain yang berdarah itu dilipat kecil-kecil hingga diikat pada kain lainnya berwarna hitam dan dijahit tangan dengan benang hitam pada saat itu juga. Dihidangkan ke hadapan saya satu botol madu asli. Dituangkannya ke dalam gelas seng berukuran kecil. Dicampur dengan air hangat. Dilanjutkan dengan hidangan buah anggur merah. Setelah dinikmati beberapa saat, paman menyalami saya dengan erat dan memberikan jimat itu kepada saya untuk disimpan dalam dompet kulit, dan dianjurkan jangan dibawa ke toilet, lalu dititipkannya sebuah celurit yang sudah ‘diisi’ dengan mantra-mantra untuk berjaga ‘diri’. Dengan hal ini, saya sedari kecil sudah dipastikan dikonstruksi oleh ritus-ritus kami sendiri, meliputi doa-doa, dan simbol-simbol, yang ingin ditolaknya dari dalam hati. Semuanya yang dihadapkan kepada saya sudah biasa disajikan, dan dapat ditafsirkan tanda-tanda psikologis (terutama), Dan kenyataannya, titipan itu ‘ketinggalan’ tanpa ada unsur ‘kesengajaan’ ketika berada di toilet sebuah perkantoran di Jakarta. Hanya sehari berada di sana. Semua yang ‘dilekatkan’ pada tubuh saya, sirna dengan cepat. Bisa jadi itu menjadi penanda untuk sementara, ‘diistirahatkan’ dan diletakkan pada semesta yang lain.

Perform pertama kali di Jakarta, Agustus 2001, Gelanggang Remaja Jakarta Timur (Sumber: Facebook Arung Wardhana Ellhafifie)

Saya selama bekerja dalam kurun waktu lima belas tahun lebih untuk bertahan hidup di Jakarta; ‘bawaan’ tubuh ingin memukul dan melukai seseorang yang bertentangan dengan saya dengan menggunakan sejumlah teknik dan keberanian ‘diri’. Lama kelamaan dengan sendirinya pelan-pelan berkurang sedikit demi sedikit. Mulut ingin memaki, mengumpat, dan menghardik sekenanya. Tampak ada upaya untuk berkomitmen untuk meninggalkan konstruksi tubuh yang ‘garang’; dengan latihan ilmu bela diri di lahan kosong secara disiplin yang ketat, ‘berkosentrasi’ dengan mantra di bawah pohon nyiur ataupun pohon beringin ala ninja, dan melakukan ritual-ritual ‘unik’ (misalnya menaiki pohon mangga depan rumah setiap pukul dua belas malam, bersemedi pada dini hari di buju’ (makam yang dikeramatkan—kini berdekatan erat dengan makam nenek saya), dan berendam di air sungai pada tengah buta sembari berdoa kepada semesta). Ingin merasakan hubungan yang mendalam, tenteram, dan damai dengan yang lainnya. Ingin berelasi dengan lainnya tanpa diakhiri dengan kemarahan dan pertentangan, tetapi kenyataannya selalu berujung dengan namanya pertikaian. Ribut. Konflik keras. Berakibat pemberhentian dari sebuah pekerjaan; atau mereka sering kali menyebut saya dengan karakter dangkal tanpa melihat historis di balik dramaturgi biografis saya.

Istilah karakter dangkal atas memori-ingatan, yang pernah disematkan terhadap saya sepanjang melakukan pekerjaan di luar pertunjukan, Fromm mengartikannya sebagai hubungan manusia membuat banyak orang berharap bahwa mereka dapat menemukan kedalaman dan intensitas perasaan cinta individual.[8] Tetapi sayangnya istilah tersebut hanya berhenti sekadar ‘penyematan’ belaka. Bukan lagi menyangkut sebuah proses kultural seseorang, maupun pilihan hidup dalam menatap kesendirian, yang berkaitan erat dengan cinta individual yang dimaksud Fromm. Keinginan awal saya dalam menatap Jakarta untuk ‘mengalihkan’ batas kekerasan fisik, mental, dan traumatik yang terus berlangsung lama. Pekerjaan dijadikan ruang sementara dalam ‘pengalihan’ yang dimaksud tanpa memeriksa bahwa ruang yang ditempuh justru dapat semakin mendekati karakter dangkal tersebut. Tidak mampu untuk meredam impuls penghancuran ‘diri’ dari karakter yang ‘garang’ sebelumnya.

Tidak ada pilihan selain bekerja di luar ‘pertunjukan’ saat itu. Latihan teater pertama kali dengan eksplorasi tubuh yang intens kurang lebih hampir dua jam dalam keadaan perut lapar (bersama Teater Kubur, Dindon WS), yang membuat ‘diri’ pingsan; sebagai titik balik untuk mencari suatu pekerjaan di luar pertunjukan. Hidup prihatin sebagai sales tapperware dari kantor ke kantor, yang hanya bertahan sehari, dilanjutkan jualan koran di lampu merah, bertahan sehari, dan mengamen dari bus kota ke bus kota, yang juga bertahan sehari. Tiga jenis pekerjaan itu menciptakan bagi saya sebagai ‘pertunjukan’ yang tidak memiliki latihan, tidak ada akhir yang mesti ditentukan sebelumnya dan tidak lagi menyertakan pengulangan di hari-hari berikutnya. Ketiga pekerjaan itu, praktis sama sekali tidak pernah dilakukan lagi. Lantas pilihannya, adalah bekerja di dunia luar ‘pertunjukan’ dengan menjalani kehidupan yang rawan konflik setiap waktu.

Hidup di luar ‘pertunjukan’ yang rawan konflik itu (yang sebagiannya dituding oleh pelaku budaya bahwa saya tidak berkebudayaan), juga dapat dipahami oleh saya sebagai dramaturgi biografis, yang juga menimbulkan ‘pertunjukan’ dengan memutuskan sepulang kerja hidup berpindah-pindah sesuai lokasi pekerjaan yang ditempuh. Hanya saya sendirian yang memilih untuk demikian di antara para pekerja lainnya. Mencuci dan menjemur pakaian di lokasi bekerja (produksi serial televisi) keesokan harinya. Sebagai buruh kasar di dunia industri media, saya kira pilihan itu dapat diartikan sebagai daya tahan hidup untuk ‘keluar’ dari cengkeraman ‘kekerasan’; kekerasan domestik akibat perlakuan bapak tiri terhadap ibu saya, perundungan oleh anak-anak yang mampu terhadap saya yang ‘miskin’, dan perundungan oleh anak ustaz saya mengaji yang dilakukan berkali-kali karena persoalan yang sama yaitu ‘miskin’. Ditambah lagi sabetan rotan ustaz musala di tubuh saya, juga menyisakan memori-ingatan yang tidak bisa hilang begitu saja. Tentu saja, catatan ini diperuntukkan untuk mengeksplorasi dan ingin memperluas kemungkinan untuk mengalami semacam subjektivitas psikis pada perspektif dramaturgi; sebagai kekuatan ‘diri’ saya sendiri—terlepas mau diakui atau tidak. Rasanya tidak terlalu mempedulikan itu. Fromm menguatkan saya; apabila kita mengatakan dia harus menggunakan kekuatan-kekuatannya, maka kita menyatakan bahwa dia harus bebas dan tidak bergantung pada seseorang yang mengendalikan kekuatan-kekuatan tersebut.[9]

Saya dalam hal ini ingin menelusuri dan mengeksploitasi watak kerja ‘diri’; untuk mengambil apa yang dibutuhkan, demi meniti jalan kembali ke arah spiritual (barangkali ke depannya). Karena sepanjang saya bekerja kurang lebih lima belas tahun; apakah saya sedang berusaha berusaha mencapai level sintesis tertentu, yang tampak ‘menghilangkan’ nilai-nilai spiritual; tetapi rasanya sangat dekat dengan saya. Di satu sisi saya, berpikir bagaimana sintesis dapat terjadi dalam ‘diri’ saya yang dikonstruksi oleh akumulasi kekerasan; bertarung dengan bapak tiri saya, menjungkalkan mendiang nenek saya, memukul ibu saya (maupun memakinya), dan mencenderai orang-orang di dalam pekerjaan saya (bahkan menampar rekan perempuan kerja saya maupun mendorong rekan pekerja tua hingga terjungkal). Apakah ini juga semacam pembubaran ego yang dipicu dari rasa sakit, atau beban ‘psikis’ yang lama untuk menghancurkan ‘diri’ dengan melampiaskan terhadap orang lain?

Rasa kecewa yang mendalam; bukan karena saya ‘batal’ menjadi seorang novelis karena tulisan yang diceritakan tidak diterima penerbit besar kala itu. Saya dianjurkan menemui beberapa penulis terbitan perusahaan tersebut, yang diikuti sarannya hanya beberapa saat, tetapi tidak dilakukan secara intens. Tidak sungguh-sungguh. Saya lebih memilih bekerja untuk bertahan hidup, dan ‘menunda’ untuk menjadi seorang penulis. Tidak ada yang terluka secara psikis. Tetapi hancur ‘psikis’ saya karena selalu bermasalah dari waktu ke waktu. Pertikaian dan konflik keras. Ditambah lagi situasi tentang Bangkalan, yang kian hari semakin menunjukkan pada ambang ‘kehancuran’. Isu-isu jual beli seragam pegawai pemerintah kala itu, seperti bebas ‘diperjualbelikan’ di awal tahun 2000-an, di masa kepemimpinan keturunan seorang sayyid. Keturunannya menyandang blater, kiai, dan priayi. Lengkap sudah tiga dominasi kelas. Seperti yang dijelaskan Kosim; dalam bidang politik, keterlibatan blater juga sangat kentara. Fenomena yang paling lumrah adalah kasus pemilihan kepala desa (pilkades). Antara blater dan arena pilkades bagai gula dan semut. Di mana ada pilkades di situ dapat dipastikan keterlibatan blater….[10]

Kampung saya, Temor Lorong di bawah kepemimpinan secara global keturunan seorang sayyid, semakin tidak karuan. Pandangan-pandangan pragmatis sudah merajalela. Barangsiapa yang memiliki uang, merekalah yang memiliki jejaring luas dan kuat dalam berkehidupan sosial. Diskriminasi sosial secara tidak langsung terjadi. ‘Lenyapnya’ nilai-nilai kemanusiaan. Materiil dikedepankan. Blater semakin menguasai jalannya kehidupan bermasyarakat. Mereka menjadi penentu keberlangsungan hidup. Dengan dalih keamanan dan gengsi, kepala desa justru dipilih dari kalangan blater. Termasuk di desa saya; yang memiliki jejaring kuat atau kekerabatan dengan pegawai pemerintahan lainnya, yang diberikan kepercayaan oleh sang penguasa kota. Ibu saya sering diminta untuk memijat istri orang yang berpengaruh itu—dengan segala macam narasi akses kekusaannya; yang diutamakan adalah jejaring dan kekuatan begitu mengakar kini. Tetapi sudah dipastikan ‘miskin’ pengetahuan kritis atas apa yang tengah terjadi. Kehadiran blater sangatlah penting, sayangnya mengganggu pikiran saya. Membuat ‘diri’ saya, antara mau dan tidak mau untuk ‘pulang’ ke Bangkalan. Kata muak. Sudah tercermin pelan-pelan secara subjektivitas untuk mengaburkan antara saya yang berada di luar ‘pertunjukan’, dan berada dalam ‘pertunjukan’ itu sendiri.

Potongan-potongan memori-ingatan yang terkumpul, dan tertuliskan satu persatu, yang dalam catatan ini hendak disatukan dengan pikiran subjektif saya lainnya: digunakan dengan pikiran yang terbuka dalam usaha ‘menyerang’ dari sudut yang jauh, melalui ruang yang berbeda, dan mendekati, dengan cara yang lain. Sistuasi dan kondisi Bangkalan yang tidak karuan, seperti memuja materiil, semakin membuat dalam sebuah rumah semakin menuai prahara setiap harinya. Salah satunya adalah terjadi di rumah saya; bibi saya yang hidup sebatang kara di masa tuanya membandingkan saudara-saudara saya yang ‘miskin’ daripada teman-teman sebayanya. Ibu saya menjadi korban diskriminatif dari kakak perempuannya sendiri. Sementara tetangga seperti ‘membiarkan’ benturan itu terjadi. Dianggap lumrah, bahwa yang ‘kaya’ memenangkan “pertarungan” hidup. Cibiran dan makian tentang ‘kemiskinan’ di kampung saya, sudah menjadi pemandangan biasa. Dapat dipastikan, ini bakal terjadi dalam jangka waktu yang tidak dapat ditentukan sampai para pemegang kekuasaan itu, antara blater, kiai, dan priayi, menyadari untuk ‘tidak melanjutkan permainan’. Memilih untuk tidak berjalan dan berlari ke depan ‘’panggung maupun ke luar ‘panggung’, lalu diberikan kepada para ‘pemain’ yang berada di luar lingkaran ‘permainan’ yang lama; tetapi pertanyaannya apakah mungkin hal itu diwujudkan?

Kenapa aku katakan Bangkalan yang jijik, mungkin karena kemiskinan tak terurus. Pengamen hanya contoh kecil yang terlantar. Dulu aku masih ingat, semiskin apapun, tak pernah kulihat mereka berkeliaran di jalanan. Tapi kini seperti jamur dan dibiarkan hidup dengan segala problematikanya sendiri. Jijik seperti mancok; ini hanya sebagian kecil yang cukup menggangguku. Terutama berkaitan dengan berapa banyak jumlah orang miskin pertahunnya. Data-data yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat aku kira palsu, omong kosong, bisa dibeli. Karena kemiskinan terus menjepit, semakin banyak pula.[11]

Salah satu potongan memori-ingatan di atas, ditulis dalam bentuk semacam esai. Mungkin sama halnya dengan ini. Meskipun bisa disebut fiksi, tetapi sebagian pembaca lainnya menganggap bahwa itu perpaduan antara fiksi dan non fiksi, di mana ‘kehadiran’ penulis begitu tebal sebagai orang yang ‘melawan’. Setelah lima belas tahun lebih, saya merasa sudah saatnya memulai ‘permainan’ dengan gaya yang berbeda. Pilihannya tidak lain meracau dengan memaki, mengumpat, dan menghina. Kata-kata kotor bertebaran. Dipindahkan secara verbal tanpa mempedulikan estetika. Secara fraksional; tampak sangat emosional. Tetapi siapa sangka setelah lima tahun lebih kemudian, menjadi penentu arah hidup kota yang ketiga—yang dicatatkan di sini pada bagian tiga sebagai serangkaian dari dramaturgi biografis, yang menjadi hubungan secara teks, ruang, dan waktu untuk benar-benar hidup ‘sendirian’ dari hari ke hari, sama halnya dengan ‘kesendirian’ si tukang racau dalam tulisan tersebut. Memori-ingatan tetaplah ada di hati, selayaknya orang-orang Bangkalan saking mencintai keturunan sayyid, apa pun yang terjadi atas ‘dosa-dosa’nya tetaplah dicintai, tahi kucing pun rasa cokelat, ibarat lelucon pendek (lepen) yang disajikan oleh Soedjarwoto/Gombloh (1948-1988, musisi Surabaya)[12].

Salah satu tempat yang sering disinggahi dan dijadikan tempat menginap sepanjang bertahan hidup di Jakarta, dan juga menjadi tempat ‘mengumpulkan’ tulisan (Sumber: Video Arung Wardhana Ellhafifie)

Kota Bangkalan, sepertinya tak bisa lepas dari narasi tubuh saya sepanjang berupaya untuk bertahan hidup. Tetapi saya belum menyadari bahwa adanya banyak konflik semacam demikian, bukanlah ‘dunia’ yang mesti segera dihindarkan. Tetapi barangkali dipahami sebagai tantangan untuk mengubah suatu keadaan. ‘Dunia’ industri media kala itu, dijadikan ilusi bagi yang dipenuhi luka psikis dan fisik untuk berada di posisi puncak. Bebas dari perundungan kata ‘miskin’. Menjadi ‘kaya’, harapan untuk seorang yang berada pada posttraumatik. Tetapi apalah daya, pertikaian dan ketegangan terus berkepanjangan, antara saya dengan orang-orang di sekeliling saya. Diperlukan kinerja yang jelas sulit bagi saya, melihat pertentangan-pertentagan yang tidak pernah berhenti. Saya tidak bisa menundukkan ‘diri’, dan tetap memasukkan ‘diri’ yang brutal dan tidak dapat berfungsi secara lebih jauh, akhirnya hubungan menciptakan permusuhan dari waktu ke waktu.

Saya menjadi ‘pemain’ yang sangat dibenci pada ruang di luar ‘pertunjukan’. Secara sadar bahwa kami ditakdirkan berbeda pemikiran. Tetapi tidak lagi dipahami siapapun yang terganggu, bertindak untuk mengajukan tidak berhubungan dengan sesuai dengan kehendak mereka masing-masing. Sepintas, kami berada pada suatu relasi yang tidak mau dilihati keberangkatan dari ‘kebrutalan diri’ semacam demikian. Tidak ada gunanya mengetengahkan latar belakang kekerasan di masa lalu. Yang dilihat adalah hasilnya di saat itu. Dalam hal ini kami sebagai pelaku industri media yang sama-sama meenggunakan keterampilan dan kemampuan untuk daya tahan, tetapi yang tidak saling tidak diketahui bahwa kami berada pada gerakan yang berbeda jika ini mau dipahami sebagai ‘pertunjukan’. Eksplorasi ‘pertunjukan’ tidak lagi dipahami sebagai ‘pertunjukan’. Padahal pada hal lainnya, juga dapat diartikan suatu praktik riset artistik secara biografis untuk menguji trauma-trauma saya melalui pembuatan seni ke depannya. Apakah sedari awal disadari akan membuat proyek seni? Sudah dipastikan jawabannya tidak, tetapi secara tidak sadar dan naluriah saya cenderung memiliki kecemasan-kecemasan terhadap apa yang sudah dipandang akut. Fromm menjelaskan bahwa sebuah tipe umum dari aktivitas memproduktif adalah reaksi terhadap kecemasan, baik akut maupun kronik, sadar dan tak sadar, yang sering pada akar keasyikan manusia yang di saat ini dalam keadaan kalut.[13] Barangkali itu, yang dapaat disebut usaha untuk memproduksi secara tidak sadar dengan ‘menantang’ suatu keadaan yang berada di luar ‘diri’, tidak sesuai kapasitas ‘diri’, tetapi dipaksakan hidup dan ‘bergerak’ non teoritis dalam daya tahan yang dimaksud.

Saya secara jujur cukup senang bekerja dengan standar dunia industri media, yang sudah dipastikan akan mengalami pertentangan dengan beberapa pihak. Tetapi yang dapat didefinisikan secara benar adalah seberapa jauh reaksi terhadap orang yang ditentang oleh saya; apakah saya langsung memukul atau mematahkan batang lehernya, atau saya hanya beradu mulut, atau saya tak membiarkan semua itu terjadi—tetapi lebih memilih meninggalkan tempat kejadian dengan menyisakan ‘stempel’ buruk bagi saya. Padahal apa yang dipertentankan selama ini, fokus pekerjaan mereka untuk melihat kinerjanya masing-masing dan berusaha memahami relasi yang saling ketergantungan—bukan ‘tunduk’ dan ‘menunduk’ pada atasan. Saya hanya sering kali mengungkapkan pandangan bahwa, dalam konteks ‘diri’ sebagai manusia, kita punya hak yang sama sebagai pekerja. Pekerjaan apa pun, dalam suatu produksi media. Saya juga ‘budak’. Saya pantang disebut budak dan mesti patuh pada ‘tuan majikan’. Bukan soal ‘budak’ dan ‘tuan majikan’. Tetapi ‘diri’ yang mesti memiliki hak suara yang sama untuk berpendapat. Menggunakan logika dalam memperdebatkan sebuah produksi. Saya bukanlah objek dari pandangan seorang ‘tuan majikan’, yang dianggap ‘budak’nya. Saya ingin membebaskan diri dari sikap-sikap perundungan masa lalu, yang sudah disebutkan dalam tulisan itu.

…..masa kanak-kanakku penuh dengan bully; caci maki dan serapah kerap masuk di telinga. Tidak terhitung berapa kali wajahku diludahi. Tamparan ayah tiri jika aku pulang menangis karena kalah bertengkar dengan kawan, bukannya aku ditenangkan atau diajak bicara tentang apa permasalahannya, tapi aku langsung disuruh pergi untuk balas memukul atau menampar atau mengetapel atau mementung lawan berkelahi tadi….. Pernah dahiku benjol kena tamparan ayah yang memakai akik bluesafir….Masa kanakku dipenuhi duka dan dendam. Diikat di bawah pohon kelapa pada terik matahari yang panas, sangat ganas terasa menyiksaku hingga kini. Pernah, karena mendapat laporan dari ibu guru bahwa aku nakal, mengintip warna kancutnya; warna celana dalamnya, ayah mendatangi sekolah, ia menyeretku, lalu mengikatku di bawah pohon rambutan di halaman sekolah. Ayah melihat sarang semut rang-rang di ranting pohon, ia memetiknya, lalu dilemparkan ke kepalaku, gigitannya terasa sampai ke syaraf otakku, semut itu sampai menggigit ujung kontol-ku,…Anak-anak di sekolah melihatku seperti menonton pertunjukan teater.[14]

Saya ingin berbicara tentang kesamaan hak sebagai pekerja, apapun pekerjaannya. Saya berhak untuk mepertimbangkan seluruh gagasan yang hendak diproduksi. Tindakan ‘tuan majikan’ dan ‘budak’ buat saya dalam sebuah hubungan kerja, tidak benar-benar diterima. Seementara mereka yang takut ‘lapar’ mengikuti aturan main demikian. Saya bukan menjadi simbol perlawanan melalui dengan cara sendiri. Saya seketika membuat tontonan dengan menodongkan ‘tuan majikan’ dengan pisau, dan hampir melukai batang lehernya, ditekan dengan pelan-pelan, membuat semuanya tak bergeming. Kalau ada yang mendekat, ujung pisau itu masuk ke dalam daging dan mungkin akan semakin menyakitinya. Seorang ‘budak’ yang selama ini sering kali ‘tidak dipandang’ seketika menentukan nasib ‘kematian’ seorang ‘tuan majikan’nya. Berbagai macam pertanyaan diajukan kepada mereka; yang ‘menunduk; terhadap ‘tuan majikan’.

Pertanyaan-pertanyaan itu yang diajukan oleh saya, tidak dapat dijawab karena mereka fokus pada darah yang mengucur. Saya hanya menjawab pertanyaan ‘diri’ sendiri yang ingin memperpanjang koneksi psikis saya dari masa lalu. Sesi tanya-jawab yang diproduksi dan dihasilkan oleh ‘diri’ sendiri, seolah-olah ingin dijelaskan suatu kebenaran dari apa yang diyakini. Saya tetaplah seorang Bangkalan, sekalipun saya berusaha ‘menjadi’ urban, tetapi pikiran saya masih ‘menggantung’ di sana. Saya masih sering kali memproyeksikan rasa identitas tentang kampung halaman yang naif, karena tidak memiliki hak untuk berotonom. Setiap warganya diatur dan diarahkan oleh siapa yang memiliki uang. Secara verbal mereka bercanda demikian. Karena semakin hari semuanya serba uang. Uang adalah kebenaran semata; yang diharapkan ‘membebaskan’ dari beban penderitaan. Para pekerja hanya membisu, layaknya warga kampung saya yang juga turut menjadi saksi bisu atas ‘kebangsatan’ para ‘tuan majikan’ bekerja dengan standar kebenarannya. Semua orang membuat versi kebenarannya sendiri. Sebagaimana dijelaskan oleh Herbert Marcuse (1898-1979, filsuf Jerman-Amerika) dalam Fromm, yang berkaitan dengan gagasan/konsep Karl Marx FRSA (1818-1883, filsuf Jerman) menjelaskan bahwa manusia akan membuat kebenaran yang ditemukannya menjadi tindakan, dan membuat dunia yang seharusnya secara esensial, yaitu semakin penuhnya kesadaran manusia.[15]

Saya dengan cara ini pula, sedang membuat kebenaran. Menurut saya. Ini dinamika dramaturgi biografis yang diawali dengan hal yang kompleks. Digerakkan oleh keinginan untuk bertahan. Hidup berpindah-pindah di kota Jakarta. Saya tidak bergantung pada tindakan para ‘tuan majikan’, di mana saya bekerja. Seolah-olah siap untuk dipecat. Sejak itu mulai membiasakan ‘diri’ sering merasa ‘kehilangan’ sebagai subjek. Status saya sepenuhnya sebagai objek. Tidak memiliki kebebasan untuk berotonom, dan juga tidak memiliki kebebasan berpendapat. Layaknya cerita-cerita dari Bangkalan; antar ‘tuan majikan’ saling berelasi, seperti dijelaskan Kosim bahwa ….dalam tradisi ritual seperti; slametan, haul, molodan, kehadiran kiai selalu diharap, baik yang diselenggarakan oleh masyarakat biasa ataupun oleh blater.[16]

Warga Bangkalan secara global, atas relasi tersebut, ditambah lagi dengan relasi kelas lainnya yaitu priayi, kebebasan untuk bersuara seperti dibungkam. Tidak ada protes sama sekali. Siapa yang protes; tinggal dikirimkan seorang ‘budak’ untuk menentukan pilihan, antara uang dan celurit (yang berujung kematian). Isu yang beredar seperti demikian. Tidak ada lagi percobaan di sana. Tetapi saya di tempat kerja, masih terus bereksperimen dengan kekuatan ‘diri’ melawan dinamika rumitnya dunia industri. Karena secara tidak sadar, bahwa itu bagian dari sistem operasi ketubuhan saya di masa depan. Situasi yang pelik, proyeksi yang berbeda, maupun motif yang beda arah hanya dibutuhkan mental untuk bertahan dalam menyelesaikan tantangan traumatik ini. Saya sebagai ‘pemain’ dalam dramaturgi biografis ini, yang dibutuhkannya adalah ‘menantang’ reaksi dari tubuh. Lagi-lagi itu, diperlukan sebagai kinerja ‘diri’ untuk menentukan, apakah masih terus bertahan atau memilih untuk meninggalkan cara bertahan hidup semacam ini.

Saya datang ke Jakarta sekali lagi ditegaskan, dengan beban-beban traumatik sebelumnya. Secara tidak langsung ingin dikatakan untuk ‘dihancurkan diri’ melalui ruang-ruang urban, yang syarat dengan ‘tantangan’. Ritme yang cepat, tekanan yang keras, maupun aroma ‘persaingan hidup’ yang juga ketat. ‘Menantang diri’, terus dilakukan hingga benar-benar menyerahkan segala ‘permainan’ pada semesta. Bukan lagi pada seorang dramaturg, yang dikerjakan seorang ‘diri’. Lingkungan dunia industri media yang beragam di hadapan saya; asap rokok selalu tiap hari mengepul, jika menjelang dini hari bau ganja yang dihisap cukup kentara, lama kelamaan lagi bungkusan pil penenang tidur disajikan, hingga suguhan ‘daging mentah’, dan keragaman lainnya menjadi ‘tantangan’ yang berbeda lagi dalam mempertahankan daya juang sebagai seorang yang hidup dengan postraumatiknya. Saya sama sekali tak menyentuhnya hingga kini, dan itu menjadi bagian dari sebuah pertentangan. Mungkin ‘daging mentah’ sesekali diinginkan. Sepertinya saya sedang menyaksikan sebuah ‘pertunjukan’ di luar ‘pertunjukan’, yang lama-lama semakin mengerti apa yang ada dalam kehidupan saya, seiring dengan kebohodan dan kegoblokan di ruang saya bekerja. Tidak ubahnya seperti di kota saya; yang akhirnya diungkapkan dalam imajinasi racauan, padahal sejatinya itu merupakan bagian dari ‘kegilaan’.

Bangkalan semakin lengkap dengan keanehannya, dan semakin mancok. Masyarakat tempatku tinggal saling berkompetisi secara bodoh dan goblok. Bayangkan saja besek di acara selametan warga menjadi tolok ukuran kekayaan dan kemiskinan manusia. Jika besek itu berisi cukup mewah, semisal aneka buah; apel, naga, dan durian, lalu ditambah bebek ungu—dikenal dengan nama Sinjay, maka esoknya ibu-ibu di teras sibuk menggunjinginya sebagai orang kaya dengan pangkat dan jabatan yang mentereng. Begitu sebaliknya jika besek seorang warga hanya berisi klepon, apen, dan lupis, buahnya hanya pisang dan jeruk. Esoknya ibu-ibu teras sibuk menggunjinginya sebagai rakyat jelata yang sedang terseok-seok dengan penderitaannya. Semakin mancoklah sudah masyarakat di sini….[17]

Lima belas tahun lebih lamanya, harus mempertahankan ‘diri’ berada di luar ‘pertunjukan’ yang disaksikan oleh saya sendiri, maupun dialami oleh saya sendiri, karenanya lama kelamaan semakin ‘muak’ terhadap ‘diri’ sendiri, sekaligus ‘bahagia’ atas ‘tantangan’ yang didapatkan. Diperlukan hal yang ‘segar’ untuk berada pada ruang ‘pertunjukan’. Saya mesti memiliki fantasi yang baru, dan mesti dilakukan setelah sekian lama dengan menggali memori-ingatan; selalu beririsan dengan masa lalu saya, sebagai seorang yang ‘terluka’ masih memiliki hak untuk hidup. Tidak ada keyakinan yang lebih, selalu meyakini bahwa ‘pertunjukan’ yang menjadi penguat hidup saya secara mendasar. Dari yang tidak mengenali istilah teater, hingga mengenali secara dasarnya. Tentu perjalanan yang melelahkan dengan segala tudingan, antara dunia di luar ‘pertunjukan’ dan ‘pertunjukan’. Dianggap ‘pertunjukan’ sebagai alternatif ketika tidak bekerja di luar ‘pertunjukan’ (media televisi misalnya). Tetapi kenyataannya sepanjang saya bekerja, menjadi penonton atas beberapa ‘pertunjukan’. Tetaplah tak bisa dihindari. Tidak pernah berhenti, kecuali berhenti mengatakan bahwa saya tidak akan lagi di sana. Tidak lagi di luar ‘pertunjukan’.

Saya ingin memunguti subjektivitas secara individu, yang selama ini sudah dianggap mengalami ‘kehilangan diri’ dan meletakkan ‘pungutan-pungutan’ yang ‘hiang’ itu atas luka-luka yang dimiliki hingga kini sebaga objek—untuk diubah posisinya menjadi subjek, dari sikap-sikap perundungan yang terus membekas hingga kini sebagai akhir dari kumpulan memori-ingatan kini;

…..mereka yang memaksaku bisa berenang. Aku dilempar beramai-ramai ke sungai suatu waktu. Setelah pandai berenang, aku diajak mengintipi para santriwati mandi di sungai. Aku dipaksa menyelam dalam waktu sekian menit. …Mereka juga yang menjadikan aku sebagai kelinci percobaan setiap menyaksikan carok. Kayu dari pohon camplong sebagai pengganti celurit. Kalau aku menampik, lagi-lagi aku dipukuli beramai-ramai…. Mereka juga yang memaksaku mengendap-endap jika ada beberapa orang tua melarang kami menonton gambar-gambar bokep, kalau tidak aku digebuki beramai-ramai.[18]

Saya selintas berpikir proyeksi dramaturgi biografis ini, semacam perjalanan refleksi dan pemulihan ‘diri’ yang sangat ‘menantang’ bagi saya, atau bisa dilihat sebagai pengkajian yang beririsan dengan penciptaan dalam menatap evolusi berkelanjutan. Barangkali pada saatnya nanti, setelah menyelesaikan ini pada edisi revisi, dijelajahi ulang ritual-ritual dan upacara yang pernah dilakukan saya selama berusia kanak-kanak, atau setelahnya (selama berada di Bangkalan)—sebagai serangkaian pelabuhan tubuh berdomisili di antara tiga kota; Bangkalan, Jakarta, dan kini (Banyuwangi); sebagai hubungan kota segitiga sama sisi, atau segitiga sama kaki, atau segitiga bermuda yang penuh dengan gelombang dan ombak mematikan—di antara ketiga kota tersebut dalam perjalanannya. Itu juga dapat dianggap buat saya sebagai bentuk terapi yang paling bisa dilakukan dan cara saya untuk mendapatkan ‘diri’ dalam proses kreatif di dalam ‘pertunjukan’, yang digabungkan dengan pengetahuan di luar ‘pertunjukan’. Dan kota Surakarta; sebagai yang kota yang sering kali dikunjungi dalam lima tahun terakhir ini. Layaknya sebagai seorang ‘tamu’ yang hanya singgah beberapa waktu—di mana secara keseluruhan serangkaian dramaturgi biografis ini bagian yang terus dikembalikan dari beberapa tahun, dan ditambahkan elemen-elemen baru (lain) untuk menemukan ‘diri’ yang seutuhnya dari kepingan-kepingan postraumatik.


Catatan Kaki (Footnotes)

[1] George Wiranke. Gadamer: Hermeneutika, Tradisi, dan Akal Budi. Yogyakarta: IRCiSoD, 2021, hlm. 69.

[2] F. Budi Hardiman. 2015. Seni Memahami Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Yogyakarta: Kanisius.

[3] Ibid. hlm. 324.

[4] Mohammad Kosim. “Kyai dan Blater (Elite Lokal dalam Masyarakat Madura).” KARSA, Vol. XII No. 2 Oktober 2007, hlm. 164.

[5] Ibid., hlm. 95.

[6] Ibid., hlm. 96.

[7] Ibid., hlm. 165.

[8] Ibid., hlm. 97.

[9] Ibid. hlm. 109.

[10] Ibid. hlm. 165.

[11] Arung Wardhana Ellhafifie. Gidher. Yogyakarta: Ladang Pustaka, 2017, hlm. 23.

[12] Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=PUqhd5ZvW0A, Gombloh - lelucon pendek (tai kucing rasa coklat), Mario Aldino, diakses tanggal 10 November 2023.

[13] Ibid., hlm, 111.

[14] Ibid., hlm. 30.

[15] Erich Fromm. Gagasan tentang Manusia Marx’s Concept of Man. Yogyakarta: IRCiSoD, 2020, hlm, 55.

[16] Ibid., hlm. 166.

[17] Ibid.

[18] Ibid.