[Seorang berdiri di tengah panggung]
TUBUH:
Aku tidak pernah lupa. Yang lupa hanya pikiranmu.
Lampu perlahan meredup. Suara napas terdengar lebih keras dibanding kata-kata. Tubuh menjadi arsip yang menyimpan luka, bahkan ketika bahasa gagal menjelaskannya.
